JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Suasana Khidmat, Lepas Jenazah Soedarmono

Suasana Khidmat, Lepas Jenazah Soedarmono

592
PEMAKAMAN SOEDARMONO-Beberapa pengantar membawa peti jenazah Soedarmono, di rumah duka jalan Yosodipuro, Solo, Senin (12/8). Jenazah dimakamkan di TPU Bonoloyo, Solo. JOGLOSEMAR|Fany Yoga Satriya
PEMAKAMAN SOEDARMONO-Beberapa pengantar membawa peti jenazah Soedarmono, di rumah duka jalan Yosodipuro, Solo, Senin (12/8). Jenazah dimakamkan di TPU Bonoloyo, Solo. JOGLOSEMAR|Fany Yoga Satriya

Ratusan orang berdatangan ke rumah duka untuk melayat dan melakukan penghormatan terakhir pada almarhum Soedarmono, Senin (12/8). Tampak di antara pelayat adalah kerabat dekat, seniman, budayawan dan akademisi di Kota Solo. Walikota Surakarta FX Hadi Rudyatmo pun meluangkan waktu untuk melepas jenazah beliau.

Sejarawan yang dimiliki Kota Solo itu mengembuskan napas terakhir Minggu (11/8) pukul 14.35 WIB di Rumah Sakit Dr Moewardi lantaran menderita penyakit Diabetes Melitus (DM).

Pak Dar sapaan akrab Soedarmono beristirahat dengan tenang di Astana Bonoloyo. Jenazah diberangkatkan dari rumah duka pukul 12.30 setelah melalui upacara Penghiburan yang dipimpin oleh Pendeta Retno Ratih Suryaning Handayani M Th MA dari Gereja Kristen Jawa (GKJ) Manahan.

Sepanjang prosesi, alunan lagu-lagu rohani pun terdengar syahdu dan khidmat. “Beliau adalah jemaat yang taat dan semoga beliau diterima di sisi Tuhan,” ucap Pendeta Retno saat melakukan prosesi.

Selama prosesi berlangsung, Tri Darmani istri Soedarmono terlihat berduka. Meskipun begitu, wanita yang berprofesi sebagai dokter gigi ini tetap tegar didampingi oleh ketiga anaknya. Ketika didatangi wartawan, tak banyak yang dia katakan hanya doa agar suaminya tenang di alamnya. “Semoga bapak meninggal dengan tenteram di alamnya,” katanya singkat.

FX Hadi Rudyatmo mengungkapkan, Kota Solo benar-benar berduka karena kehilangan salah satu tokoh yang betul-betul memperjuangkan situs sejarah. Pria yang lahir 13 Agustus 1949 ini dinilai memiliki idealisme yang tinggi dan mampu menjadi teladan dalam mempertahankan peninggalan sejarah dan kebudayaan.

“Kiprah beliau terutama pada upaya menata Solo dengan karakter Solonya dan menyelamatkan situs-situs dari kekuasaan kapitalis. Pada budayawan muda harus mencontoh beliau yang lantang berbicara sesuai dengan fakta dan kebaikan bersama,” tandasnya.

Mengenai penghargaan atas kiprah yang telah dilakukan oleh Soedarmono untuk Kota Solo, Rudy mengaku perlu ada pembicaraan dan rapat terlebih dahulu. Perlu pembicaraan dengan senior dan sesepuh untuk melakukan pembahasan, barulah bisa diberikan penyematan penghargaan atas jasa yang sudah dilakukan oleh Soedarmono.

Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Prof Dr Ravik Karsidi mengaku sangat kehilangan sosok Soedarmono lantaran Soedarmono juga merupakan dosen Ilmu Sejarah di Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) UNS yang patut diteladani.

Menurut Ravik, selama hidupnya Soedarmono banyak berkiprah untuk UNS utamanya mengenai kegiatan kebudayaan. “Saya jadi saksi ketika almarhum masih hidup, banyak berjasa untuk UNS bahkan dari lahirnya UNS. Banyak pemikiran almarhum dalam bidang kebudayaan. Saya ikut berdoa semoga peninggalan almarhum bisa diteruskan,” ucapnya.

Sementara itu, anggota Komunitas Peduli Cagar Budaya Nusantara, HM Sungkar yang juga rekan Soedarmono mengatakan, yang bersangkutan merupakan tokoh di Kota Solo yang belum ditokohkan. Oleh karena itu, menurut Sungkar paling tidak Walikota bisa memberikan gelar ketokohan untuk lelaki yang pernah mendapatkan penghargaan dari Presiden berupa Satya Lancana Karya Satya 20 tahun pada tanggal 17 Agustus 2005 ini.

“Coba saja Benteng Vastenburg bisa bicara, itu sebagai saksi betapa beliau peduli pada Cagar Budaya dengan menentang pembangunan Hotel di atas Benteng itu. Kami merasa kehilangan sekali semoga ada yang bisa menggantikan beliau. Karena selama ini banyak yang berani ngomong tapi tidak berani mempertanggungjawabkan. Tapi Pak Dar berani berbicara dan bisa dipertanggungjawabkan,”ujarnya. Rahayu Astrini

BAGIKAN