Tak Lekang karena Gempuran Industri, Rutin Produksi Ketupat

Tak Lekang karena Gempuran Industri, Rutin Produksi Ketupat

360

USAHA PEMBUATAN KETUPAT SECARA TURUN-TEMURUN

MEMBUAT KETUPAT - Suparni (57), warga Griyan RT 4 RW I, Desa Baturan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar tengah mengisi beras dalam ketupat, beberapa waktu lalu. Joglosemar  | Yuhan Perdana
MEMBUAT KETUPAT – Suparni (57), warga Griyan RT 4 RW I, Desa Baturan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar tengah mengisi beras dalam ketupat, beberapa waktu lalu. Joglosemar | Yuhan Perdana

Menu Lebaran identik dengan opor ayam dan lontong ketupat. Setiap Lebaran tiba, ketupat menjadi menu incaran kuliner, terlebih bagi masyarakat Jawa dengan tradisi Bakdan Ketupat. Namun hal itu rasanya tak berlaku bagi sebagian warga Desa Baturan, Kecamatan Colomadu, Karanganyar. Lebaran tiba atau tidak, bagi sebagian warga tiap hari tetap membuat selongsong ketupat dan ketupat.

Hal itu salah satunya dilakukan keluarga Suparni (57). Bagi warga Griyan RT 4 RW I, Baturan, Colomadu, produksi ketupat dilakukan secara turun-temurun. Ia sendiri hanya meneruskan usaha yang dirintis almarhum orangtuanya Joyo Rakiyo dan Sakinem. “Dulu saya hanya membantu usaha yang dilakukan ibu. Tapi semenjak ibu meninggal tahun 2001, saya yang meneruskan usaha produksi ketupat ini,” ujar Suparni saat ditemui Joglosemar di rumahnya, Rabu (14/8).

Sambil mengisi beras dalam selongsong ketupat, Suparni menuturkan setiap harinya memproduksi 2.000 ketupat dengan menghabiskan sekitar 45 kilogram beras. Sedang untuk membuat selongsong ketupat tetap menggunakan cara tradisional dengan dianyam dan untuk memasak ketupat masih menggunakan bahan bakar kayu bakar. Adapun untuk menanak ketupat menggunakan panci besar yang mampu memuat sekitar 1.400 ketupat sekali menanak dan sekali menanak membutuhkan waktu sekitar 5 jam.

Untuk di kampungnya ada sekitar 21 orang yang memproduksi ketupat, tapi Suparni mengklaim produksinya paling banyak. Bahkan jika Lebaran bisa mengalami kenaikan dua kali lipat produksinya. “Selama Lebaran kemarin bisa mencapai 5.000 ketupat seharinya. Ini semua karena permintaan dari pelanggan yang banyak. Saya yang paling banyak buat,” tutur istri dari Kepala Dusun Baturan, Sutarno (58), itu.

Baca Juga :  Aksi Kapolres Karanganyar Mendadak Jadi Hercules, Tarik Bus Berisi 20 Personel dan Bikin Terharu

Ia mengakui untuk mencukupi permintaan ketupat setiap harinya dibantu beberapa saudara dan tetangganya.  Bahkan, selongsong ketupat dibuatkan tetangganya. Selongsong ketupat dibuatkan tetangganya yang telah menjadi langganannya. “Saya nggak mampu untuk membuat 2.000 selongsong ketupat. Selongsongnya, saya buruhke,” kata dia.

Bahan selongsong ketupat siap harinya dari pandan yang telah disetori, demikian juga kayu bakar. Satu ikat pandan harganya mencapai sekitar Rp 20.000. Hal dilakukan karena kalau menggunakan janur harganya lebih mahal. “Kecuali beras, saya mencari sendiri. Tapi kalau pandan dan kayu bakar disetori,” ujar ibu tiga putra yang telah 12 tahun memproduksi ketupat, itu.

Meski telah 12 tahun memproduksi ketupat dan kampungnya dikenal sebagai penyuplai ketupat di sejumlah daerah, namun perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar terbilang minim. Padahal, para pembuat ketupat itu mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.  “Baru sekali memperoleh bantuan dari Pemkab Karanganyar. Bantuan berupa drum untuk menanak ketupat. Kami masih dijanjikan untuk memperoleh bantuan kompor gas, tapi kapan turunnya tidak tahu,” kata Suparni.

Suparni mengaku akan terus memproduksi ketupat tanpa mengenal adanya gangguan apapun termasuk nantinya saat memasuki pasar bebas. “Pokoknya terus buat ketupat untuk memenuhi permintaan pelanggan tanpa libur. Mau Lebaran atau punya hajat ya tetap buat,” kata dia.

Baca Juga :  Mengejutkan, Ini Barang-Barang Yang Ditemukan di Rumah Terduga Teroris Karangpandan, Karanganyar

Namun saat disinggung soal keuntungan dari membuat ketupat tersebut, Suparni enggan menyebutkannya. Ia mengaku tak etis menyebutkan hasil dari produksi ketupatnya.  Dia hanya menyebutkan setiap pagi ketupat buatannya diedarkan di Solo, Gawok (Sukoharjo), Kartasura, Manggu (Boyolali), Palur (Karanganyar) dan Sukoharjo Kota.

Pembuat ketupat lainnya, Suparman (38), warga Klemboran RT 3 RW III, Baturan mengaku pada hari biasa membuat 1.000 ketupat, namun saat Lebaran bisa 2.000. “Saya biasanya setor daerah Matahari Singosaren (Solo-red) dan Bekonang (Sukoharjo-red),”ujarnya.

Ia menuturkan pada hari biasa bisa memperoleh penghasilan kotor sekitar Rp 250.000, sedangkan pada Lebaran bisa mendapat Rp 500.000. “Ya hasilnya cukup menghidupi tiga anak-anak,” kata dia yang juga penjual tahu ketupat keliling, itu.

Sementara itu, pembuat selongsong ketupat Karsih (68), warga RT 1 RW V Baturan, Baturan mengaku telah 25 tahun menjadi pembuat selongsong ketupat. “Saya jadi buruhnya Bu Bayan (sebutan untuk istri kepala dusun-red), semenjak masih dikelola orangtuanya  sudah membuat selongsong ketupat,” kata kepada Joglosemar.

Pembuatan selongsong diakui dikerjakan secara borongan. Katanya, setiap 1.000 buah selongsong ketupat memperoleh upah Rp 15.000. “Uang saya ambil kalau sudah terkumpul banyak, paling ya seminggu sekali. Untuk setiap hari rata-rata bisa membuat 700 selongsong ketupat,” katanya sambil menganyam selongsong ketupat. Eko Susanto

BAGIKAN