Target Utama Anggota Densus 88

Target Utama Anggota Densus 88

656
Densus 88
Densus 88

JAKARTA-Aksi teror terhadap polisi meningkat dalam tiga bulan terakhir. Sudah tiga polisi tewas ditembak orang tak dikenal di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Sementara di daerah, aksi teror terhadap polisi juga banyak terjadi.

Anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Adrianus Meliala, yang juga analisis kriminolog Universitas Indonesia (UI), meminta kepada pemerintah untuk serius mengatasi serangan pelaku teror ini.

“Polisi memang lawan mereka. Sebenarnya yang dikejar Densus 88, tapi karena tidak terlihat lalu yang jadi sasaran polisi berseragam,” katanya sebagaimana dikutip VIVAnews.co.id, Minggu (18/8).

Serangan terhadap polisi yang terjadi akhir-akhir ini menurut Adrianus, sejalan dengan kegiatan kelompok teroris yang sebelumnya juga mengancam pejabat negara.

Karena itu, pemerintah diminta tidak hanya melakukan tindakan yang bersifat keras untuk menghentikan aksi terorisme. Namun, yang juga lebih penting harus mengantisipasi proses radikalisasi para pemuda yang belakangan ini meningkat jumlahnya.

Mabes Polri sendiri menyatakan penembakan terhadap anggotanya, yang marak belakangan ini dilakukan kelompok teroris. Beberapa waktu lalu, kelompok teroris bahkan menyatakan perang secara terbuka terhadap aparat penegak hukum melalui video yang diunggah ke YouTube.

Secara spesifik, Mabes Polri menyebut pelaku diduga kuat adalah mantan anggota kamp Poso. “Kemungkinan teroris terlibat sangat kuat. Kami kan sudah bubarkan kamp-kamp pelatihan mereka di Poso. Dari situ kemungkinan para teroris itu kembali ke kampung halaman. Ada yang ke Nusa Tenggara, Sulawesi dan ke berbagai daerah di Pulau Jawa,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Polisi Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta, Minggu (18/8).

Baca Juga :  Kisah Siswi SMA Bertemu Sang Ayah Saat Order Ojek Online, Ini Pesan Salma untuk Anak 'Broken Home'

Dari aksi selama ini, terkesan sudah direncanakan dengan matang. “Dari semua sasaran, korban sepertinya sudah ditargetkan. Semua kejadian seperti sudah direncanakan,” kata Boy.

Ia mencontohkan, anggota yang menjadi sasaran tembak sudah dibuntuti sebelumnya. Selain itu, kaliber peluru yang digunakan untuk menembak juga sama, dan jarak tembak antara pelaku dan korban cukup dekat.

Polisi juga mendapati dugaan, peluru atau amunisi yang dipakai pelaku berasal dari Filipina. “Kami masih mengumpulkan data dan fakta di lapangan. Kami baru meyakini proyektil peluru yang digunakan merupakan selundupan dari Filipina,” kata Boy.

Sebelum kamp-kamp latihan teroris didirikan di Poso, ujar Boy, banyak para tokoh teroris di sana yang pernah mendapat pelatihan militer di Moro, Filipina. Oleh sebab itu diduga kuat para teroris itu mempunyai jaringan dan kemampuan untuk membeli dan menyelundupkan senjata dari Filipina ke Indonesia.

Selain itu salah satu kelompok teroris, jaringan kelompok Abu Roban, pun telah melakukan banyak perampokan di Pulau Jawa dan Sumatera. Nilai perampokan mereka mencapai miliaran rupiah, dan uang itulah yang digunakan untuk operasional kamp latihan dan pembelian senjata.

“Peluru kaliber 9,9 milimeter ini biasa di gunakan para teroris. Amunisi ini diduga bagian dari penyelundupan senjata yang berasal dari Filipina,” kata Boy.

Dia menambahkan, Abu Umar yang pernah menyelundupkan senjata dari Filipina ke wilayah Poso dan digunakan oleh kelompok teroris Abu Roban memiliki kesamaan dengan kelompok teror yang beraksi di Pulau Jawa. “Seperti penembakan yang dilakukan Fahran cs di Solo, amunisi sama,” ujarnya.

Baca Juga :  Kisah Siswi SMA Bertemu Sang Ayah Saat Order Ojek Online, Ini Pesan Salma untuk Anak 'Broken Home'

Dia menambahkan, wilayah penembakan di Tangerang merupakan daerah rawan teroris. “Selain itu daerah Tangerang termasuk daerah rawan yang di manfaatkan kelompok teroris. Ada beberapa anggota teroris yang ditangkap di wilayah ini salah satunya Dulmatin,” ungkapnya.

Saat ini, sambung dia, polisi sedang mengembangkan hasil uji balistik ini jenis senjata yang dipakai pelaku. “Kita masih belum tahu ini senjata rakitan atau senjata pabrikan. Polis sendiri masih mendalami ini. Bisa saja senjatanya rakitan. Tapi larasnya itu pabrikan. ini yang digunakan oleh banyak anggota teroris Poso pimpinan Abu Roban,” paparnya.

Seperti diketahui, Abu Roban cs menggunakan laras senjata tua sisa konflik di Filipina yang diselundupkan. Laras ini cocok dengan kaliber yang digunakan dalam berbagai penembakan, termasuk penembakan terhadap dua anggota polisi Polsek Pondok Aren, Tangerang Selatan.

Namun IPW (Indonesia Police Watch) punya analisis yang berbeda terkait pelaku penembakan terhadap polisi tersebut. IPW menilai pelaku penembakan oknum Polri yang belakangan sering terjadi bukanlah ulah dari jaringan teroris. Melainkan hanya penjahat jalanan dan pelaku kriminal biasa.

“Ini pelakunya kriminal jalanan saja,” kata Presidium IPW, Neta S Pane dalam sebuah diskusi di Galeri Cafe, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Minggu (18/8).

Senjata yang digunakan oleh pelaku, kata Neta, kebanyakan adalah senjata api rakitan. Hal itu menurutnya semakin menegaskan bahwa pelaku dari penembakan-penembakan itu adalah penjahat-penjahat jalanan.

“Kalau teroris biasanya menggunakan senjata orisinil. Sedangkan kejadian-kejadian kemarin menggunakan senjata rakitan yang biasa dimiliki kriminal jalanan,” ungkapnya.(Okezone | Detik)

BAGIKAN