JOGLOSEMAR.CO Rubrik Mozaik Ramadhan Tauladan: Berakhirnya Ramadan Itu Musibah

Tauladan: Berakhirnya Ramadan Itu Musibah

460
BAGIKAN
Ustadz Agung Suhada Pengasuh Ponpes Khalifatullah Singaludira.
Ustadz Agung Suhada
Pengasuh Ponpes Khalifatullah Singaludira.

Seisi penghuni langit menangis. Bintang, bulan dan jagat raya, serta makhluk yang ada di bumi semua menangis karena bulan Ramadan berakhir.

Sesungguhnya, berakhirnya bulan Ramadan adalah musibah. Musibah, jika di bulan suci yang penuh kemuliaan ini umat Islam tidak mendapatkan apa-apa. Apalagi justru bergelimang dosa. Karena di bulan puasa ini sangat spesial karena pahalanya langsung dari Allah.

Demikianlah makna bulan Ramadan bagi pengasuh Pondok Pesantren Kholifatullah Singaludira, Mojolaban, Sukoharjo, Usataz Agung Suhada. Menurut dia, bulan Ramadan ini adalah bulan amal dan sedekah. “Kenapa bumi dan langit menangis saat bulan Ramadan berakhir? Sebab Rasul berkata Ramadan ini bulan amal dan sedekah. Pahala orang puasa beda dengan ibadah yang lain. Pahalanya langsung diberikan Allah SWT tanpa perantara,” kata Kyai yang menggratiskan anak-anak yang ingin belajar di pesantrennya ini kepada Joglosemar.

Selagi masih ada kesempatan, di penghujung Ramadan ini, dia berpesan kepada umat muslim agar memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Umat muslim harus bisa tetap beristiqomah dengan amalan-amalan yang sudah dilakukan di bulan Ramadan. Misalnya saja membaca Alquran, bersedekah, bersilaturahmi dan memakmurkan Masjid. “Inilah inti dari Ramadan, yaitu sedekah, baca Alquran, silaturahmi, dan memakmurkan Masjid,” tegas kiai yang pesantrennya sudah dilengkapi dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) tersebut.

Ia menambahkan, orang yang yang ahli sedekah itu Insya Allah matinya khusnul khotimah. “Beramal yang ikhlas jangan tanggung-tanggung. Apalagi di bulan Ramadan,” pungkasnya. Ahmad Yasin Abdullah