Tausiyah: Bekerja dan Istirahat

Tausiyah: Bekerja dan Istirahat

383
Murtafiah Mubarokah Guru dirasah Alquran Pesantren Al-Muayyad Windan Makamhaji
Murtafiah Mubarokah
Guru dirasah Alquran Pesantren Al-Muayyad Windan Makamhaji

Anas bin Malik RA adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang perlu diteladani. Ia menjadi yatim sejak berusia 10 tahun. Oleh ibunya, Ummu Sulaim, ia diserahkan kepada Nabi Muhammad SAW agar memperoleh asuhan terbaik. Dan benar adanya. Anas RA berkembang menjadi pribadi saleh, tekun belajar, beribadah dan bekerja. Dunia Islam mengakuinya sebagai salah satu tokoh penting, antara lain karena dapat belajar 2.286 hadits yang diriwayatkannya.

Tokoh ini gigih. Setidaknya ada delapan kali penugasan baginya untuk ikut berperang bersama Rasulullah SAW. Disiplinnya terbangun sangat baik. Tidak heran jika bisnisnya sukses, terutama yang bertumpu pada pertanian. Usianya panjang hingga lebih dari 99 tahun, dan ada yang menyebutkan sampai 120 tahun. Ia wafat di Basrah dan dimakamkan di sana. Sejarah hidupnya dapat kita baca antara lain dalam buku karya Muhammad Al-Jardani, Syarah Arba’in Nawawiyah, edisi Bahasa Indonesia (Jakarta: Hikmah, 2011).

Tidak hanya dalam hal hadits kita dapat belajar dari sosok mulia didikan Rasulullah SAW ini. Kita juga belajar satu hal yang vital dalam hidup, yaitu tentang bekerja dan istirahat.

Anas RA ditempa langsung Nabi SAW selama 10 tahun. Dalam waktu itu apa saja dipelajari dan dilaksanakan, karena pola pendidikan Nabi SAW sejatinya adalah tarbiyah sulukiyah (Adib Ad-Dabbagh et al, 2004). Pola pendidikan ini mempersyaratkan keterlibatan murid di dalam pembelajaran, sehingga ilmu tidak hanya berbentuk ujaran, melainkan pengamalan. Semakin banyak mengamalkan, maka semakin banyak pula ilmu temuan yang dikuasai sang murid.

Suatu kali Anas RA mendapatkan pelajaran dari Nabi SAW, saat beliau bersabda: “Kapan pun kamu bertemu salah seorang umatku, lalu memberi salam kepadanya maka akan memperpanjang umurmu. Apabila kamu masuk ke rumahmu dan memberi salam kepada keluargamu maka akan memperbanyak kebaikan di rumahmu. Kerjakanlah salat Dluha karena ia merupakan salatnya orang-orang yang selalu bertaubat dan berbuat kebajikan,” (HR Imam Baihaqi).

Anas RA tekun mengamalkan ajaran-ajaran dari Rasulullah SAW. Terbukti hidupnya sukses lahir batin. Rumahnya tidak lagi dapat disebut sebagai rumah, melainkan istana. Orang-orang miskin yang datang kepadanya tidak pulang dengan tangan hampa, karena ada satu yang khas dalam diri sahabat ini, yaitu kegigihannya membuka lapangan pekerjaan.

Pernah suatu kali para pekerja di ladangnya mengeluh. Hujan lama tidak turun. Tanah menjadi keras, sulit dicangkul, padahal garapan sangat luas. Mereka meminta agar Anas RA berdoa kepada Allah SWT. Dan benar, ia berdoa memohon hujan. Subhanallah, hujan deras turun pas sebatas luas lahan miliknya. Para pekerja pun heran, tetapi tidak hanya berhenti di situ saja. Mereka semakin percaya bahwa sang juragan memang orang saleh dan amanah.

Sedekah sekaligus memberdayakan. Itulah jurus Anas RA dalam bekerja. Dan itu pulalah yang memberinya dukungan bagi istirahatnya yang nyaman lahir batin di usia tua. Dengan meneladani kisah hidup Anas RA ini terpompa semangat kita, bahwa kerja keras, cerdas dan tuntas di usia produktif adalah konsekuensi wajar dari penghidupan. Kelak kita dapat istirahat nyaman lahir batin dan terhormat di usia tua. Amin. Jangan lupa, juga tekun beribadah, belajar dan memberdayakan sesama sebagaimana Anas RA.

BAGIKAN