JOGLOSEMAR.CO Foto Tedjowulan Kecewa, Keraton Tercemar Kepentingan Bisnis

Tedjowulan Kecewa, Keraton Tercemar Kepentingan Bisnis

434
BAGIKAN

Namanya Benda Cagar Budaya (BCB), ya harus dijaga keasliannya.” KGPH Panembahan Agung Tedjowulan | Mahapatih Keraton Surakarta

Keraton Solo
Keraton Solo

BALAIKOTA- Mahapatih Keraton Surakarta, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, menyayangkan fenomena keraton yang mulai terkooptasi kepentingan bisnis. Ia menyebut kompleks keraton seperti Masjid Agung dan Alun-alun seharusnya steril dari kegiatan ekonomi.

“Namanya Benda Cagar Budaya (BCB), ya harus dijaga keasliannya. Dalam Keppres Nomor 23 Tahun 1988 tentang Status dan Pengelolaan Keraton juga sudah jelas,” jelasnya, Rabu (21/8).

Pernyataan Tedjowulan itu menanggapi makin banyaknya pedagang kaki lima (PKL) yang menggelar dagangan di sekitar Masjid Agung dan alun-alun.

Di sisi lain, Pengageng Pariwisata dan Museum Keraton Surakarta, KP Satriyo Hadinagoro menilai, penataan PKL di sekitar Masjid Agung sudah sangat mendesak. Hal ini supaya PKL berjualan dengan tertib di pendapa lahan parkir timur depan masjid.  “Selain dipakai jualan, ada yang kerokan, pijat sampai kuli yang istirahat. Keraton lihatnya tidak enak,” kata Satriyo saat ditemui wartawan di balaikota.

Diberitakan sebelumnya, Ketua Lembaga Eksekutif Keraton Surakarta, KP Eddy Wirabhumi membenarkan jika pendapa di lahan parkir depan Masjid Agung akan disekat. Hal itu agar pedagang terlihat lebih rapi. Namun rencana itu ditampik Humas Dwitunggal Keraton Surakarta, KRH Bambang Pradotonagoro.

Bambang mengatakan rencana itu bukan berasal dari pihak keraton dan dinilai melanggar UU Nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya serta Keppres Nomor 23 tahun 1988 Tentang Pengelolaan Keraton Kasunanan Surakarta.

Namun, Satriyo menampik penataan tersebut melanggar UU. “Melanggar bagaimana wong tidak ada yang diubah. Kami hanya menggunakan sekat dari rotan, bukan sekat mati. Setelah selesai dipakai bisa dilempit (dilipat) lagi,” terang dia.

Di sisi lain, pihaknya juga mengkritisi kesemrawutan yang terjadi di gapura keraton depan Pasar Klewer. Dicontohkan olehnya pedagang tengkleng di kawasan itu yang sering menaruh barang sembarangan di gapura warisan Paku Buwono X itu.

Menurutnya, pedagang yang ada di kawasan itu juga perlu ditata agar tak menimbulkan kesan kumuh. “Bisa juga pakai sekat rotan. Kalau siang ditutup, jadi yang makan dan klekaran tidak kelihatan,” imbuhnya. Farrah Ikha Riptayani