Usaha Kecil Belum Terasa Dampak Rupiah Drop

Usaha Kecil Belum Terasa Dampak Rupiah Drop

246

SOLO- Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar  Amerika yang sempat menyentuh angka Rp 11.000 per dolar Amerika, rupanya belum berimbas hingga menyentuh konsumen kelas ekonomi menengah ke bawah.

Harga barang dan jasa di level transaksi kepada konsumen masih tetap dan belum ada kenaikan tarif dan harga. Walaupun di sisi lain, pengusaha sudah mulai kelimpungan dengan fluktuasi nilai tukar rupiah.

Ketua Paguyuban Penjahit Solo, Suparto Harjo, kepada Joglosemar mengatakan, bahwa sudah sejak sepekan terakhir harga perlengkapan menjahit mengalami kenaikan.”Saya sendiri malah bingung sekarang ini, harga perlengkapan jahit sudah naik dari sepekan lalu. Tetapi kalau mau menaikan ongkos jasa jahitan kayaknya gak mungkin,” keluhnya.

Baca Juga :  Kontribusi Koperasi Terhadap Ekonomi Nasional Masih Rendah, Hanya 3,9 Persen Saja

Dikatakannya, harga perlengkapan menjahit seperti benang, jarum dan sebagainya sudah mengalami peningkatan sebesar lima persen sejak sepekan lalu.

Sedikit berbeda, pemilik Sahil Laundry, Latifah Sukmaningsih mengaku belum terkena imbas langsung merosotnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika. “Sampai saat ini kebutuhan bahan-bahan untuk usaha saya belum ada yang naik,” akunya.

Baca Juga :  Begini Semarak Perayaan HUT ke-72 RI di Lorin Group

Dijelaskan, bahan-bahan pokok usahanya seperti deterjen diproduksi oleh perusahaan besar, sehingga harga masih tetap. Bahan utama kedua yakni listrik. “Bahan utama seperti detergen, pewangi dan pelembut pakaian diproduksi perusahaan besar yang notabene tahan krisis jangka pendek, kemudian kenaikan tarif dasar listrik (TDL) juga berkala, jadi ongkos jasa cuci tidak saya naikkan,” ujarnya.

Jasa laundry and dry cleaning dengan sistem kiloan dan per potong tersebut diakuinya mampu meraup omzet sebesar Rp 2 juta dalam sebulan.  Adilla Prasetyo Wibowo

BAGIKAN