JOGLOSEMAR.CO Foto Walikota Turun Tangan, Warga Baluwarti Mengaku Resah

Walikota Turun Tangan, Warga Baluwarti Mengaku Resah

381
MENGKRITIK KISRUH KERATON--Dua warga membawa poster bertuliskan "Rukun Agawe Santosa, Crah Marake Bubrah" saat melakukan aksi di Kawasan Gladag, Solo, Rabu (28/8). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk kritik terhadap kisruh yang terjadi di dalam Keraton Kasunanan Surakarta beberapa waktu lalu. Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo
MENGKRITIK KISRUH KERATON–Dua warga membawa poster bertuliskan “Rukun Agawe Santosa, Crah Marake Bubrah” saat melakukan aksi di Kawasan Gladag, Solo, Foto diambil  Rabu (28/8). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk kritik terhadap kisruh yang terjadi di dalam Keraton Kasunanan Surakarta beberapa waktu lalu.
Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

SOLO- Walikota FX Hadi Rudyatmo (Rudy) akan berupaya memfasilitasi kembali dua kubu yang berseteru di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dalam waktu dekat, Rudy berencana mengundang seluruh putra dalem Paku Buwono (PB) XII untuk mencari solusi yang bisa diterima semua pihak.

“Proses rekonsiliasi yang dirintis Pak Jokowi (mantan Walikota Joko Widodo) rupanya belum tuntas. Sudah dapat tanda tangan dari putra-putri Sinuhun, tetapi ternyata gagal. Saat jumenangan masih ada pihak yang belum bisa masuk keraton. Masih disusul peristiwa kemarin. Jadi, ini harus dituntaskan segera,” ungkap Rudy, ketika ditemui wartawan di Gedung DPRD, Kamis (29/8).

Pihaknya akan mengupayakan untuk mendapat daftar seluruh putra dalem untuk diundang ke Balaikota. Nantinya dalam pertemuan tersebut juga akan dihadirkan jajaran Muspida dan tokoh masyarakat. Rudy meminta seluruh pihak untuk  menghargai dan ikut serta dalam upaya Pemkot dalam proses mediasi tersebut.

Rudy menyebut, poin penting dalam pertemuan tersebut adalah mengembalikan kewenangan raja yang sudah dinobatkan secara resmi. Soal pengelolaan di internal keraton nantinya menjadi otoritas penuh raja.

“Kalau memang tidak mau dan tidak menganggap pemerintah ini ada, ya silakan. Keraton mau mendirikan DIS sendiri ya boleh saja, silakan saja. Peristiwa kemarin itu kan memalukan,” tegasnya.

Langkah Walikota untuk mendamaikan kisruh keraton mendapat dukungan dari kalangan DPRD Kota Surakarta. Konflik tersebut dinilai dapat merusak pencitraan Solo sebagai Kota Budaya.

“Konflik keraton itu berdampak buruk pada citra Solo. Wisatawan yang berkunjung pun jadi tak nyaman. Kami harap mediasi itu bisa menguntungkan semua pihak,” kata Ketua Komisi IV Teguh Prakosa.

Sekretaris Komisi IV Abdul Ghofar Ismail menambahkan, pihaknya menerima banyak pernyataan dari terkait konflik keraton tersebut. Dia berharap, keraton mampu kembali menjalankan fungsinya sebagai pusat budaya adi luhung.

“Keraton sebagai ikon budaya Jawa yang adi luhung, terkenal dengan kehalusan sikapnya, harusnya mampu menjaga itu. Melihat peristiwa kemarin rasanya kok ngisin-ngisini.”

Sementara itu Presidium Komunitas Peduli Cagar Budaya Nasional (KPCBN), Agus Anwari menyatakan harus ada cara-cara dari kedua kubu  untuk menyelesaikan masalah keraton.  “Bukan jaminan orang luar itu masuk untuk menyelesaikan masalah keraton. Harus orang dalam sendiri, kan bisa melihat pengalaman yang sudah-sudah, permasalahan yang kemarin itu jelas sangat disesalkan dan memalukan,” ujarnya.

Agus menambahkan, secara administrasi raja sudah tidak punya kekuasaan karena keraton sudah menjadi bagian NKRI. ”Sekarang kekuasaan raja itu sudah habis. Di dalam mungkin masih bisa tapi kalau di luar tidak bisa,” tandas dia.

Sementara itu, acara silaturahmi dan halal bihalal PB XIII serta KGPH Tedjowulan dengan warga Baluwarti, kemarin malam berlangsung khidmat.

Meski tanpa undangan resmi, warga yang hadir di Ndalem Purwodiningratan itu cukup banyak. “Ini hanya kegiatan biasa, kita bersilaturahmi dengan warga Baluwarti saja,” ungkap KGPH Tedjowulan, kepada wartawan.

Tedjowulan juga mengimbau kepada warga Baluwarti agar bersikap tegas dan menolak keberadaan warga asing di kawasan keraton. “Kalau ada warga asing di keraton, usir saja,” katanya.

Ia menegaskan, di keraton tidak ada lembaga Dewan Adat. “Kalian setuju tidak dengan adanya Dewan Adat?” tanya Tedjowulan kepada warga hingga diulangnya sebanyak tiga kali. Menanggapi hal itu, warga yang hadir pun dengan tegas mengatakan “tidak.”

Tedjo juga mengimbau kepada seluruh warga, agar tidak mudah terpengaruh dengan pihak-pihak yang ingin memecah belah mereka. Acara halal bihalal sendiri baru dimulai sekitar pukul 20.30 WIB, setelah Sinuhun PB XIII hadir didampingi permaisurinya serta orang kepercayaannya yang juga mantan Bupati Wonogiri, Begug Poernomosidi. Sementara KGPH Tedjowulan hadir 15 menit lebih awal.

Menggunakan baju koko warna putih, KGPH Tedjowulan didampingi oleh juru bicaranya KRH Bambang Pradotonagoro. Acara ini disambut antusias warga yang mengikuti halal bihalal. Terlebih selama ini warga cukup kesulitan untuk bertemu dengan rajanya.

Tidak hanya itu, perselisihan yang terjadi selama ini antara dua kubu juga semakin membuat warga resah. “Kami jadi tidak bisa tenang, karena sering ada patroli,” ungkap salah seorang warga Baluwarti, Kustiyanto saat berkeluh kesah di hadapan Sinuhun.

Acara berlangsung sekitar satu jam dan berakhir pukul 21.30 WIB. Setelah acara usai, raja diiring untuk kembali ke Sasonoputro.  Dini Tri Winaryani | Ari Welianto | Ari Purnomo

BAGIKAN