Griya Lawu Asri: Sejak 2013 Diambil Alih oleh Perumnas

    461
    BAGIKAN

    MENENGOK PERUMAHAN GRIYA LAWU ASRI (Bag II)

    RUSAK - Kondisi perumahan Griya Lawu Asri (GLA) terlihat tak terawat, bahkan beberapa rumah dindingnya mulai retak dan beberapa juga ada yang jebol, Jumat (15/11). PINGSAN-Sejumlah pelajar pingsan saat mengikuti upacara Napak Tilas Perjuangan Pahlawan Joko Songo di Taman Makam Pahlawan Karanganyar, Jumat (15/11).
    RUSAK – Kondisi perumahan Griya Lawu Asri (GLA) terlihat tak terawat, bahkan beberapa rumah dindingnya mulai retak dan beberapa juga ada yang jebol, Jumat (15/11).
    PINGSAN-Sejumlah pelajar pingsan saat mengikuti upacara Napak Tilas Perjuangan Pahlawan Joko Songo di Taman Makam Pahlawan Karanganyar, Jumat (15/11).

    Perumahan Griya Lawu Asri (GLA) yang belakangan kian santer disebut-sebut karena menjadi korban dari ketidakjelasan pengelolaan dananya, kini kian merana. Subsidi yang diberikan pemerintah pusat yang menjadikan GLA sebagai sarana hunian murah bagi para pekerja itu pun kini tidak lagi bisa dirasakan oleh beberapa penghuninya. Rupanya perumahan yang berlokasi di Dusun Plosokerep, Desa  Jeruksawit, Gondangrejo ini sejak 2013 telah diambil alih oleh Perumnas Solo. Namanya pun kini telah berubah menjadi Perumahan Jeruksawit Permai.

    Joglosemar kembali mengunjungi perumahan yang sepi penghuni ini pada Sabtu (16/11) untuk mencari informasi lebih mendalam. Akhirnya Joglosemar berhasil menemui Ketua RT 02 RW I, Sugi (50) di kediamannya yang berada di luar kompleks GLA. Ia menceritakan panjang lebar tentang awal pembangunan GLA hingga kini.

    Belum tersedianya fasilitas listrik dan air secara baik, diakui Sugi menjadi salah satu penyebab sepinya perumahan itu. Berdasarkan penuturan Sugi, perumahan yang kini tengah bermasalah itu terbagi ke dalam beberapa wilayah RT dan RW. Hingga kini hanya ada tiga Kepala Keluarga (KK) yang sudah terdaftar menjadi warganya dari total 24 penghuni.

    “Saya dengar-dengar awalnya banyak yang mau pakai perumahan ini. Tapi lha wong tidak dirawat dengan baik otomatis bangunannya pada rusak setelah terkena air terus. Apalagi listriknya juga belum ada,” terang Sugi.

    Untuk kebutuhan air sendiri, awalnya banyak penghuni yang ikut ke rumah penduduk sekitar. Sedangkan jika mau menggunakan sumur, mereka harus mengebor hingga kedalaman 150 meter untuk bisa mendapatkan air yang baik. “Karena tanah di sini memang kering dan tandus,” tukasnya.

    Joglosemar kembali melanjutkan penelusuran ke salah satu rumah penghuni perumahan yakni, Trihatsurono (47) yang telah menempati GLA sejak tahun 2007. Rumahnya yang dihuni bersama istri dan anaknya itu tampak begitu sempit.

    Terkait pengambilalihan perumahan ini, ia membenarkan sejak tahun 2013 GLA telah diambil alih oleh Perumnas Solo. Ketika awal menempati rumah itu, ia baru menyetor DP ke pengelola sebesar Rp 11,6 juta dari total Rp 25 juta karena rumahnya bertipe 23. Sisa kekurangannya akan diangsur setiap bulannya. Namun ia merasa kesal setelah Perumnas yang mengambil alih perumahan tersebut memintanya untuk menyetorkan uang sebanyak Rp 29 juta jika ingin memiliki secara penuh rumahnya itu. “Ternyata DP yang sudah saya bayar itu dianggap hangus setelah diambil alih oleh Perumnas. Subsidi pun tidak bisa saya rasakan,” tegasnya.

    Kini Trihat, sapaan akrabnya, hanya bisa berharap agar pemerintah Karanganyar dan Perumnas Solo memproses kepemilikan rumahnya sesuai dengan harga awal yang mendapatkan subsidi. Ia yang berprofesi sebagai buruh pabrik merasa tidak mampu jika harus membayar lagi dengan biaya sebesar itu. “Saya maunya ini diproses dengan harga lama yang telah disepakati,” lanjutnya.

    Sementara itu, Manajer Perumnas Solo M Dafiq membenarkan Perumahan GLA memang telah di-takeover oleh Perum Perumnas Solo sejak awal tahun 2013. “Kami menawarkan Jeruksawit Permai untuk umum dan tidak ada kaitannya dengan GLA lagi karena memang sudah diambil alih Perumnas,” tandasnya, Jumat (15/11).

    Ia menambahkan, alasan Perumnas mengambil alih GLA ini karena sebelumnya sudah ada cut off dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk pengelolaan GLA. Menurutnya, setelah proses pengambilalihan itu, Perumnas tidak ikut campur mengurusi rumah-rumah yang sudah terjual saat masih bernama GLA. Perumnas hanya membangun rumah-rumah yang belum terjual.  Ahmad Rodif Hafidz

    berita terkait : MENENGOK PERUMAHAN GRIYA LAWU ASRI (Bag I)