JOGLOSEMAR.CO Daerah Sukoharjo Refleksi Hari Guru Nasional dan HUT PGRI

Refleksi Hari Guru Nasional dan HUT PGRI

408
BAGIKAN

Kekerasan Seharusnya Bisa Diselesaikan Secara Internal
…Bapak Oemar Bakri kaget apa gerangan
“Berkelahi Pak!” jawab murid seperti jagoan
Bapak Oemar Bakri takut bukan kepalang

PAYUNG- Sejumlah guru membawa payung dalam gerak jalan memperingati  HUT ke-68 PGRI di  halaman kantor UPTD Pendidikan Kecamatan Nguter, Sukoharjo,  Sabtu (24/11). Murniati
PAYUNG- Sejumlah guru membawa payung dalam gerak jalan memperingati HUT ke-68 PGRI di halaman kantor UPTD Pendidikan Kecamatan Nguter, Sukoharjo, Sabtu (24/11). Murniati

Lirik lagu di atas adalah sepenggal lagu Oemar Bakri yang dipopulerkan dan diciptakan oleh Iwan Fals. Kemajuan teknologi informasi membuka babak baru bagi para pendidik negeri ini. Dulu, seorang guru dimaklumi ketika mendidik muridnya dengan agak keras. Hal itu bertujuan untuk membentuk karakter anak didiknya. Sekarang, sedikit saja sang guru “menyentuh” dengan keras siswanya, akan langsung diperkarakan, di blow-up di media. Bagaimana wajah pendidikan dalam peringatan Hari Guru Nasional (HGN) ini?

Seperti kasus yang satu ini, sejumlah siswa kelas XII jurusan Teknik Sepeda Motor Yamaha (TSMY) SMK 1 Muhammadiyah Sukoharjo mengaku ditendang oleh oknum guru berinisial LH. Tidak hanya itu, siswa justru diintimidasi dan diancam dibunuh.

Kasus ini terjadi sekitar dua pekan lalu. Di mana, sekolah menggelar Pentas Seni (Pensi). LH yang juga wali kelas TSMY itu terlihat kesal dengan ulah anak didiknya yang tidak kunjung memulai. Diduga emosi, LH langsung menendang 21 siswa menggunakan salah satu kakinya. “Saya melihat teman-teman sedang duduk karena menunggu temannya untuk gladi bersih. Tapi tiba-tiba Pak LH emosi dan menendang teman-teman,” kata salah seorang siswa yang enggan disebutkan namanya, akhir pekan lalu. Siswa lalu mengajukan protes dan guru kesiswaan langsung mengumpulkan korban untuk dimintai penjelasan.

Siswa akhirnya melaporkan masalah itu kepada Ketua Pendidikan Dasar Menengah (Disdakmen) Muhammadiyah Sukoharjo, Tri Kuat. Saat diminta konfirmasi, Kuat membenarkan hal itu. “Tidak menendang yang seperti yang kita bayangkan. Guru hanya menyepak saja jadi tidak sampai luka atau sakit, ” katanya, Sabtu (23/11).

Meski sudah menerima laporan, pihaknya tidak langsung mengambil alih penyelesaian kasus itu. Dikdasmen menyerahkan masalah itu kepada sekolah yang bersangkutan.

Terpisah, Kepala SMK 1 Muhammadiyah Sukoharjo, Tulus Sutoyo menyatakan masalah itu sudah diselesaikan secara damai. Terkait adanya ancaman dibunuh, dia mengaku tidak tahu.

Menanggapi maraknya kasus kekerasan, pengamat Pendidikan, Prof Dr M Furqan Hidayatullah merasa kecewa jika mendengar guru ada yang melakukan tindak kekerasan. Dia menegaskan  sebenarnya kasus-kasus seperti itu bisa diselesaikan secara baik-baik di lingkungan internal sekolah.

Sementara itu, di Kecamatan Nguter Sukoharjo, ribuan guru yang bernaung di UPTD pendidikan  setempat, mengikuti gerak jalan dalam rangka memperingati HUT ke-68 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Yang unik mereka membawa payung yang berwarna warni.

Ketua PGRI Sukoharjo, Joko Dwi Riris menjelaskan payung diidentikkan dengan hukum. Artinya, dalam menjalankan tugasnya guru dilindungi oleh hukum. Sebaliknya, guru juga tidak boleh seenaknya karena dalam mengajar memiliki aturan yang mengikat. Ini pula yang sempat beberapa kali muncul di publik di mana oknum pendidik mengajarkan sesuatu kepada siswa dengan menggunakan kekerasan.

Guru menurutnya bukan hanya sebuah profesi tapi lebih pada bentuk pengabdian. Oleh karena itu, momentum hari jadi PGRI 2013 ini diharapkan mampu memantik semangat mereka dalam mencerdaskan anak bangsa.

Sementara itu Kepala UPTD Pendidikan Sri Wahyuningsih yang juga mendampingi Riris menyebutkan selalu memantau kinerja para guru. Dan selama ini, menurut dia, tidak ada pelanggaran di Nguter.

Pada peringatan HGN tahun 2013 ini, Furqan berharap agar guru yang dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa ini mampu mendukung upaya mewujudkan cita-cita besar pendidikan Indonesia. “Jadilah guru yang menjiwai profesinya!,” pesan Furqan.  Murniati | Ahmad Rodif Hafidz