JOGLOSEMAR.CO Foto Warga Temukan Mortir Sisa Perang Dunia II

Warga Temukan Mortir Sisa Perang Dunia II

398
BAGIKAN
Warga Temukan Mortir Sisa Perang Dunia II
Warga Temukan Mortir Sisa Perang Dunia II

SRAGEN—Sebuah mortir yang diduga sisa perang dunia II ditemukan di Dukuh Bayanan, Desa Jambeyan, Kecamatan Sambirejo, Jumat (1/13). Mortir berukuran 60 sentimeter, diameter 8 sentimeter dengan berat 9 kilogram itu ditemukan tanpa sengaja oleh seorang warga, Sukarman, ketika bekerja bakti menguruk jembatan di daerah setempat.

Informasi yang dihimpun di lapangan, mortir yang sudah dalam kondisi berkarat itu ditemukan Sukarman di kedalaman 20 sentimeter dari atas permukaan tanah. Benda berdaya ledak tinggi itu ditemukannya saat berniat mencangkul tanah untuk menguruk jembatan.

Menurut keterangan Sukarman, saat tengah menggali tanah ia kaget karena cangkulnya terbentur benda keras berbahan logam. Setelah dicek ternyata benda itu adalah mortir. Karena ukurannya lumayan besar dan berat, benda itu akhirnya dievakuasi secara beramai-ramai oleh warga.

Setelah berhasil diangkat, benda itu kemudian dibawa pulang ke rumahnya. Selanjutnya, bersama warga lain ia pun melaporkan dan menyerahkan mortir tersebut ke Polsek Sambirejo.

Kapolsek Sambirejo, AKP Rakhman mewakili Kapolres Sragen, AKBP Dhani Hernando membenarkan temuan mortir tersebut. Rakhman menjelaskan mortir itu diserahkan warga setelah sempat disimpan sejenak. Namun ia mengaku si penemu tidak berniat menjual tapi ragu untuk melaporkan karena ketidaktahuannya. “Kondisi proyektilnya sudah berkarat atau rusak dan diduga peninggalan perang dunia II atau perang kemerdekaan,” ujarnya.

Kasubag Humas Polres Sragen, AKP Sri Wahyuni mewakili Kapolres Sragen, AKBP Dhani Hernando menjelaskan mortir sudah diserahkan kepala Tim Penjinak Bom dari Brimob Sub Den Iden C Pelopor Surakarta, Jumat (1/11) sekitar pukul 11.00 WIB. Tim dipimpin oleh Danton Jibom, Aiptu Maruto Jono. “Tim terdiri dari empat orang, mortir sudah kami serahkan. Kondisi mortir berkarat dan rusak. Temuan-temuan serupa pernah terjadi di Sragen tetapi mayoritas kondisi sudah tidak aktif,” tandasnya. Wardoyo