JOGLOSEMAR.CO Daerah Wonogiri 13 Kecamatan Di Wonogiri Rawan Longsor

13 Kecamatan Di Wonogiri Rawan Longsor

1034
BAGIKAN

Diwacanakan Peledakan Batu di Bukit Sintren

Puluhan desa tersebut berlokasi di lereng-lereng bukit dengan kemiringannya mencapai 10 hingga 65 derajat.

ANGKUT BARANG – Warga Dusun Kopen, Desa Bero, Kecamatan Manyaran, Wonogiri, mengangkut barang-barang untuk diungsikan ke wilayah lain, belum lama ini. Menurut rilis dari DPESDM, Manyaran termasuk satu dari 13 kecamatan yang masuk zona merah.  Joglosemar | Aris Arianto
ANGKUT BARANG – Warga Dusun Kopen, Desa Bero, Kecamatan Manyaran, Wonogiri, mengangkut barang-barang untuk diungsikan ke wilayah lain, belum lama ini. Menurut rilis dari DPESDM, Manyaran termasuk satu dari 13 kecamatan yang masuk zona merah. Joglosemar | Aris Arianto

WONOGIRI – Sebanyak 13 dari 25 kecamatan yang ada di Wonogiri, dinyatakan masuk zona merah atau rawan mengalami bencana longsor. Sementara itu, ada wacana untuk meledakkan batu-batu besar di atas Bukit Sintren Dusun Timoyo, Desa Bero, Kecamatan Manyaran, bukit yang pada Selasa (25/3) lalu longsor dan menewaskan dua orang warga. Dinas Pengairan Energi dan Sumber Daya Mineral (DPESDM) Wonogiri, Kamis (27/3) merilis data jumlah kecamatan yang termasuk dalam kategori zona merah. Pihak DPESDM sendiri mengistilahkannya sebagai kerentanan pergerakan tanah tinggi.

Yakni, Bulukerto, Kismantoro, Tirtomoyo, Manyaran, Sidoharjo, Jatiroto, Purwantoro, Puhpelem, Selogiri, Wonogiri, Nguntoronadi, Jatiroto, dan Slogohimo. “Memang ada  13 kecamatan itu yang masuk (zona merah). Tapi tidak lantas meliputi seluruh wilayah. Jadi hanya sebagian dari wilayah itu yang masuk. Ada 46 desa yang ada di 13 kecamatan itu yang merupakan zona kerentanan pergerakan tanah tinggi. Totalnya 245,36 kilometer persegi,“ ungkap Kepala Seksi (Kasi) Geologi dan Air Tanah DPESDM Wonogiri Siti Nurul Chuznah di ruangannya.

Puluhan desa tersebut berlokasi di lereng-lereng bukit dengan kemiringannya mencapai 10 hingga 65 derajat.  Lantaran itulah, sangat rentan terjadi longsoran tanah dan batuan di dalamnya. Pihaknya menyatakan, wilayah yang masuk zona merah, tidak boleh digunakan untuk permukiman warga. Akibatnya bisa fatal. Seperti yang terjadi di Bukit Sintren, sebelumnya.

“Untuk aktivitas pertanian sebenarnya tidak diperkenankan, sebab akan memicu pergerakan tanah di sekitarnya. Apalagi untuk bermukim, jelas sangat tidak disarankan,“ tandas Siti. Di tempat yang sama, Kepala DPESDM Arso Utoro menyebutkan, ada wacana yang sampai ke pihaknya untuk meledakkan batu besar yang ada di atas Bukit Sintren, Dusun Timoyo. Batu-batu besar tersebut sewaktu-waktu dikhawatirkan akan meluncur ke bawah dan bisa saja menyebabkan timbulnya pergerakan tanah.

Hanya saja masih butuh banyak pertimbangan untuk melaksanakan wacana peledakan. “Memang bagus tujuannya, tapi kita perlu mempertimbangkan efek yang terjadi ketika batu itu diledakkan,“ sebut Arso. Saat ledakan terjadi, menurut Arso, akan ada getaran pada tanah sekelilingnya. Pihaknya, justru khawatir, getaran itu bakal memicu pergerakan tanah untuk meluncur ke bawah.

Di samping itu perlu pula dicermati, serpihan batu pascadiledakkan bisa saja “mampir’ ke rumah penduduk di bawahnya. Untuk wacana itu, pihaknya bakal berkoordinasi dengan Dinas ESDM Provinsi Jateng terkait segala kemungkinan yang timbul. Termasuk di dalamnya, penyediaan tenaga ahli. Dikatakan Arso, hingga saat sekarang, Wonogiri belum memiliki tenaga ahli spesialis peledak.

“Dulu pernah ada peledakan batu di Paranggupito, tenaga ahlinya dari Banyumas. Tapi karakteristik wilayahnya berbeda dengan Manyaran. Ini pula yang wajib kita pertimbangkan,“ pungkasnya.  Aris Arianto