JOGLOSEMAR.CO Lifestyle Kesehatan Dapatkan Keturunan dengan Teknik Inseminasi

Dapatkan Keturunan dengan Teknik Inseminasi

2652
BAGIKAN
sumber: invitrobiotech.com
sumber: invitrobiotech.com

Problema infertilitas seolah tak pernah habis. Semakin banyaknya tuntutan hidup dan gaya hidup yang berkembang saat ini bisa menyebabkan infertilitas. Selain gaya hidup, usia yang tidak produktif  lagi juga menjadi penyebab seseorang sulit mendapatkan keturunan. Selain itu, beberapa kasus infertilitas juga disebabkan karena adanya penyakit tertentu.

Berbagai cara ditempuh untuk mendapatkan keturunan, berkonsultasi dengan dokter, mencoba berbagai terapi medis maupun nonmedis, namun banyak dari mereka yang mengalami kegagalan pada semua terapi yang dijalankan. Namun kini, dengan perkembangan teknologi dan ilmu Kedokteran, sekarang ini dimungkinkan untuk melalukan inseminasi buatan untuk memiliki anak.

Dokter Spesialis Kandungan Klinik Sekar Rumah Sakit Moewardi Surakarta, dr. Eriana Melinawati, SpOG (k) menjelaskan, masalah infertilitas ini memang banyak penyebabnya. Untuk menentukan metode apa yang tepat digunakan, harus dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu.

Sebelumnya, perlu dilakukan evaluasi yang menyeluruh tentang penyebab atau hambatan dalam memiliki keturunan. Ada beberapa alternatif yang bisa dilakukan, salah satunya adalah dengan inseminasi buatan. Dalam istilah kedokteran inseminasi buatan ini disebut Inseminasi dalam rahim atau Intra Uterine Insemination (IUI). “Inseminasi buatan ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk masalah infertilitas,” katanya kepada Joglosemar.

Dikatakannya, untuk menyimpulkan apakah inseminasi dapat dilakukan, maka perlu ditentukan penyebab masalah fertilitas dan apakah sperma sang suami dapat sesuai untuk inseminasi. Dokter akan menanyakan riwayat medis secara terinci dari kedua pasangan dan keduanya akan menjalani pemeriksaan fisik lengkap, termasuk  pemeriksaan HIV (Human Immunodeficiency Virus-red) dan penyakit seksual yang lain.  Pria akan diminta untuk menyediakan  spesimen untuk analisa sperma. Pemeriksaan pada wanita termasuk pemeriksaan ginekologis dan beberapa pemeriksaan untuk menentukan waktu ovulasi. Dokter juga akan merekomendasikan pemeriksaan Histerosalphingogram (HSG) untuk menentukan adakah sumbatan saluran telur (tuba fallopi). “Wanita biasanya akan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui riwayat infeksi, kerusakan saluran telur atau endometriosis,” paparnya.

Dia menjelaskan, IUI ini biasanya dilakukan pada pasangan dengan kondisi yakni faktor infertilitas ringan pada pria, misalnya kondisi masalah ejakulasi, masalah pada mulut rahim wanita, gangguan ovulasi endometriosis ringan dan infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya. Teknik Inseminasi Dalam Rahim Pertama-tama dilakukan pengambilan sampel sperma pada pasangan pria. Kemudian dilakukan analisa sperma dan pemilahan sperma, untuk memilih sperma yang berkualitas yang memiliki bentuk normal dan motilitas yang tinggi.

Sementara itu untuk wanita dilakukan stimulasi pada ovarium. Tindakan IUI sendiri dilakukan sesuai dengan masa subur dari pasangan wanita, mengingat sel telur paling baik dibuahi dalam waktu tiga hari setelah ovulasi dan sperma dapat bertahan di dalam rahim hanya 12-24 jam, maka IUI dilakukan kurang dari 24 jam setelah ataupun sebelum terjadinya ovulasi yang dipantau dari kadar LH dalam urine dan pemeriksaan USG.

Diungkapkannya, proses IUI dilakukan dengan menyemprotkan sperma terpilih ke dalam rongga rahim melalui alat injeksi yang dihubungkan dengan alat kateter transervikal, penempatan kateter ini dipandu dengan USG transvaginal ataupun USG transabdominal. Hal yang dapat terjadi adalah kehamilan dengan janin lebih dari satu, ini dikarenakan stimulasi yang dilakukan terhadap ovarium dapat mengakibatkan lebih dari satu ovum yang matang, jadi dapat terjadi beberapa embrio dalam satu kali kehamilan dengan IUI. Teknik ini merupakan teknik inseminasi buatan yang termasuk simpel dan tidak terlalu mahal serta memiliki tingkat keberhasilan yang cukup baik, sekitar 35 persen IUI diikuti kehamilan, namun demikian angka keberhasilannya masih lebih rendah dibandingkan dengan IVF. “Angka keberhasilan inseminasi ini memang masih cukup rendah, namun caranya cukup simple,” paparnya. Tri Sulistiyani