JOGLOSEMAR.CO Pendidikan Akademia Kami “Tidak” Memilih

Kami “Tidak” Memilih

746
BAGIKAN

Pemilu akan sukses jika setiap warga bebas menggunakan hak pilihnya sesuai kehendak hati nurani masing-masing,

Yuli Wardani,
Mahasiswi UNY
Ilustrasi
Ilustrasi

Pesta demokrasi terbesar di negeri ini akan segera digelar, tidak kurang dari 10 partai politik dan dua partai lokal menjadi peserta dalam penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) lima tahunan ini. Tepat tanggal 9 April 2014 masyarakat Indonesia akan disuguhkan Pemilu tahap pertama, yang bertujuan untuk memilih anggota legislatif,  baik untuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), maupun Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Dengan jumlah daftar pemilih tetap sebanyak 2.723.621 jiwa untuk wilayah Yogyakarta, Pemilu kali ini menyajikan sebuah sistem yang menurut banyak orang baik. Namun, di balik sistem tersebut masih saja banyak pihak yang ragu terhadap penyelenggaraan Pemilu terakbar di negara kita ini.

Ada banyak alasan keraguan terhadap Pemilu kali ini. Seperti yang diutarakan oleh Jihan Rizaldi, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini menganggap Pemilu kali ini akan sedikit yang berpartisipasi. “ Untuk legilatif saya pikir akan banyak yang Golongan Putih (Golput),” terang Jihan kepada Tim Akademia UIN Sunan Kalijaga.

Namun tetap ada pihak yang optimis terhadap penyelenggaraan Pemilu tahun 2014 ini. Yuli Wardani, mahasiswi  yang sekarang kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini mengatakan Pemilu akan sukses ketika pemilih memakai hati nurani. “Pemilu akan sukses jika setiap warga bebas menggunakan hak pilihnya sesuai kehendak hati nurani masing-masing,” ujar Yuli.

Namun dalam sejarah Pemilu di negeri kita ini, Pemilu seolah tidak akan luput dari masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya, atau yang disebut Golput. Lalu Golput ini juga cenderung acuh karena sudah hilangnya kepercayaan kepada pemimpin atau bahkan calon pemimpin yang hanya mengumbar janji manis di awal namun akhirnya mengecewakan rakyat di kemudian harinya.

Untuk tahun ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Yogyakarta memperkirakan 7 persen dari pemilih akan memutuskan untuk Golput. “Ya saya memilih Golput, karena memang begitulah realitanya,” imbuh Yuli.

Lanjutnya, bukan tak ada alasan masyarakat memutuskan untuk Golput, dan alasanya pun bukan hanya satu. Faktor yang mendominasi orang-orang Golput biasanya adalah tidak adanya kepercayaan sehingga untuk memberikan hak pilihnya pun menjadi tidak bersemangat.

Sementara itu, Jihan kembali menambahkan pihaknya juga memilih untuk tidak memilih. Pasalnya ia belum mengetahui siapa yang akan dipilih lantaran minimnya sosialisasi. ”Saya nggak tahu tentang calon-calon yang ada, mungkin karena kurang sosialiasasi,” ujar Jihan.

Bukan hanya faktor-faktor tersebut yang memicu adanya Golput di masyarakat, faktor lain seperti kaum yang awan terhadap perpolitikan, masyarakat yang nan jauh dari tempat tinggalnnya, ataupun masyarakat berkebutuhan khusus.

Entah ini tanggung jawab siapa, namun seyogyanya masyarakat dibuat agar berpandangan positif terhadap politik. Atau setidaknya cara-cara nyata harus dilakukan untuk mengurangi angka Golput di Pemilu-Pemilu yang akan datang. Cara nyata untuk menekan angka Golput bisa dengan tidak banyak janji oleh Caleg. Cobalah untuk menepati janji-janji yang digembor-gemborkan semasa kampanye dan jangan buat hati masyarakat kecewa lagi dengan kasus-kasus korupsi. “Saya nggak Golput kalau kandidatnya nggak cuma janji doang tapi bisa jujur,” tukas Jihan.

 

Perlu disadari bersama bahwa negara demokratis seperti Indonesia ini membutuhkan partisipasi aktif dalam pembangunan demi Indonesia yang maju. Maka Golput adalah suatu hal yang merugikan. Bagaimanapun, sistem demokrasi menyuarakan bahwa sumber  pemerintahan dari rakyat dan tujuannya pun untuk rakyat. Namun, jika masyarakat tidak memberikan sumbangsihnya kepada negara yang berarti mereka Golput, maka rakyat pun tidak memiliki hak untuk menuntut jika dalam pelaksanaan pemerintahan tidak sesuai dengan kehendak mereka.

Meski banyak kontradiktif dalam pesta demokrasi terbesar di Indonesia yang ke-10 ini, masyarakat tetap memiliki harapan untuk Pemilu yang sejatinya merupakan hak mereka. Jihan misalnya yang berharap Pemilu bisa dilaksanakan dengan lancar. “Meski Golput tapi Pemilu kali ini semoga bisa damai, lancar, dan jujur, agar yang kalah tidak merasa sakit hati dan yang menang bisa melaksanakan tugas dan janji janjinya,” kata Jihan.

Beda orang beda pula harapannya. Sedangkan Yuli sendiri berharap agar Pemilu kali ini bisa merubah nasib bangsa. “Semoga lewat Pemilu kali ini nasib bangsa lebih mudah ditentukan melalui pemimpin yang lebih baik,” kata Yuli. Tim UIN Sunan Kalijaga