JOGLOSEMAR.CO Pendidikan Akademia Lanjut Kuliah S-2? Jangan Takut

Lanjut Kuliah S-2? Jangan Takut

1772
BAGIKAN

Mengenyam studi di S-2 itu sebetulnya tidak terlalu susah. Justru menurut pandangan saya, yang paling susah itu S-1,

Dr. Winarti, M.Si,
Direktur Program Pascasarjana Unisri Surakarta

graduationUsai lulus S-1 dan mendapatkan gelar sarjana, masing-masing orang tentu punya pertimbangan tersendiri untuk menentukan perjalanan selanjutnya. Langsung berburu lapangan kerja, bisa jadi prioritas utama. Lanjut ke jenjang S-2 pun tak ada salahnya. Masing-masing orang punya mimpinya sendiri. Konsentrasi ke karier atau menggenggam studi, bukan pilihan yang salah.

Hanya, ketika melangkah lebih jauh, tetap harus berpijak pada pertimbangan plus minus maupun prospek ke depan. Begitu juga ketika memutuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana. Sebaiknya kenali dulu potensi, lihat peluang dan terpenting apabila hendak melangkah jangan sedikitpun ragu atau takut.

“Mengenyam studi di S-2 itu sebetulnya tidak terlalu susah. Justru menurut pandangan saya, yang paling susah itu S-1,” ujar Dr. Winarti, M.Si, Direktur Program Pascasarjana Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta kepada Joglosemar, Selasa (25/3).

Lantaran S-2 pada dasarnya sebagai lanjutan dari S-1, maka seharusnya mahasiswa yang hendak melanjutkan tak perlu merasa inferior atau takut. “Kendati demikian tidak serta merta mudah begitu saja, hanya saja tetap tak sesulit S-1. Karena ilmu dasar S-1 otomatis sudah dimiliki, maka jangan merasa takut atau berpikiran S-2 itu menakutkan. Basic yang dimiliki tinggal dilanjutkan,” jelas Winarti.

Winarti kemudian memberikan gambaran seperti apa mekanisme pendidikan jenjang S-2. Ia menyebut, program S-2 itu layaknya program yang eksklusif, memiliki banyak perbedaan dengan program S-1. “S-2 hanya membutuhkan empat semester, kira-kira 18 bulan efektif itu paling cepat. Terkait biaya, kalau pasca itu satu paket satu pembayaran sampai selesai. Waktu perkuliahan pun kendati tetap sama terstrukturnya, namun lebih fleksibel. Kita yang menawarkan waktunya sesuai dengan kesiapan mahasiswa,” terangnya panjang lebar.

Namun tak jarang, kesulitan dalam hal pembiayaan selama ini pun menjadi penghambat bagi peminat program pascasarjana. Kendati demikian, adanya skema dari pemerintah yang memungkinkan pemberian beasiswa hingga jenjang lanjutan membawa angin segar bagi peminat serius yang secara finansial tergolong kurang mampu. “Pemerintah memang sangat concern terhadap pendidikan bangsa, artinya banyak biaya yang disediakan. Tujuan pemerintah sendiri untuk mempermudah dengan pemberian beasiswa, tentu tetap ada persyaratan yang mesti dipenuhi. Jadi tak perlu khawatir selama punya prestasi akademik,” tandas Winarti.

Di pascasarjana Unisri sendiri, peminat yang masuk pun tergolong bagus, artinya mampu berkompetisi dengan Perguruan Tinggi (PT) lainnya. Hal tersebut tercermin dengan terpenuhinya kuota masing-masing Program Studi (Prodi). “Idealnya kuota per kelas mencapai 20 mahasiswa, dan kita bisa penuhi itu bahkan sampai kelebihan. Peminat pun beragam, tak hanya fresh graduate S-1 saja namun juga yang sudah bekerja. Magister Administrasi Publik sementara ini banyak diminati, kendati masyarakat umum belum begitu familiar. Padahal Prodi itu sebenarnya nggak baru juga,” tukas Winarti.  Putradi Pamungkas