JOGLOSEMAR.CO Pendidikan Akademia Lingkungan Bisa Jadi Sarana Mendidik Siswa

Lingkungan Bisa Jadi Sarana Mendidik Siswa

871
BAGIKAN

Seminar Nasional PGSD FKIP UNS

ALTERNATIF BELAJAR – Para pembicara tengah mengulas optimalisasi lingkungan guna memberikan alternatif bagi para guru dalam Seminar Nasional bertajuk Cerdas Mendidik Melalui Optimalisasi Lingkungan Belajar, di kampus IV UNS, Sabtu (22/3). Dok. PGSD FKIP UNS
ALTERNATIF BELAJAR – Para pembicara tengah mengulas optimalisasi lingkungan guna memberikan alternatif bagi para guru dalam Seminar Nasional bertajuk Cerdas Mendidik Melalui Optimalisasi Lingkungan Belajar, di kampus IV UNS, Sabtu (22/3). Dok. PGSD FKIP UNS

SOLO – Melalui optimalisasi lingkungan, sesungguhnya dapat memberikan alternatif baru bagi para guru dalam mengajar siswanya. Dengan demikian diharapkan situasi belajar mengajar menjadi lebih interaktif dan tidak menjemukan. Gambaran metode pengajaran dengan pendekatan lingkungan tersebut yang  digagas oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dalam Seminar Nasional bertajuk Cerdas Mendidik Melalui Optimalisasi Lingkungan Belajar, di kampus IV UNS, Sabtu (22/3).

Dalam seminar yang turut menghadirkan pembicara dari Sekolah Alam Bengawan Solo tersebut, menggambarkan tentang bentuk sekolah alam sebagai sarana mengajar. Dimana, sekolah alam dianggap cukup memberikan sesuatu yang segar bagi guru maupun siswa. “Kami tertarik usai menyaksikan dokumentasi disana, lalu kami melihat sekolah alam itu seperti apa. Model pembelajaran ini beda dengan pembelajaran formal yang selama ini ada. Disamping itu, para siswa pun dapat belajar dari alam pula,” ujar Ketua Panitia Seminar, Nanda Setyanto, kepada Joglosemar usai seminar berlangsung.

Dengan adanya metode pembelajaran memanfaatkan alam, tentu menjadi alternatif yang baru bagi para pendidik. Terlebih lulusan PGSD FKIP UNS nantinya yang bakal menjadi seorang pengajar, hal tersebut diharapkan menjadi satu gambaran. “Biar nanti mahasiswa yang sudah menjadi guru bisa optimalkan lingkungan, jadi tak hanya mengajar dengan standar saja,” jelas Nanda.

Sekolah Alam yang berada di kawasan Juwiring, Klaten tersebut, lanjut Nanda, tidak memiliki kelas, melainkan dengan saung-saung dan rumah pohon. Model pembelajaran pun terbilang aplikatif lantaran tak jauh berbeda dengan aplikasi Kurikulum 2013. “Misalnya dalam satu pembelajaran terdapat campuran materi,” imbuhnya.

Sementara itu, dalam paparannya, Pendiri Sekolah Alam Bengawan Solo, Drs. Suyudi, menggambarkan lima permasalahan pendidikan di Indonesia. Antara lain yakni konflik, bisa berasal dari keluarga maupun masyarakat, kemudian kemiskinan, kesetaraan gender, tempat yang tak terjangkau dan kompetensi dengan bidang-bidang lain seperti ekonomi dan politik. “Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan adalah kebijakan otonomi daerah dari pemerintah, kemudian masyarakat serta guru,” ucap Suyudi.

Guna mendukung era Indonesia emas dan mengembalikan kejayaan bangsa ini, yang perlu dilakukan yaitu dengan membangun pendidikan karakter, kepemimpinan dan kewirausahaan lewat media alam.  Putradi Pamungkas