JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Alumni Curiga Demo Penolakan Penggabungan SDN Mojo Direkayasa

Alumni Curiga Demo Penolakan Penggabungan SDN Mojo Direkayasa

527
BAGIKAN

 

Ilustrasi
Ilustrasi

SRAGEN – Ikatan alumni SDN Mojo Sragen menyesalkan aksi demo dengan mengerahkan anak-anak SDN 5 Sragen untuk menolak merger dengan SDN Mojo tersebut. Koordinator alumnis SDN Mojo, Triyono menduga aktor intelektual dari aksi demo itu justru dari internal dalam SDN tersebut.

“Kami akan telusuri karena indikasinya yang menggerakkan memang dari dalam SDN 5 sendiri dengan memanfaatkan anak-anak. Sepertinya memang ada yang kecewa tidak dijadikan kepala sekolah di situ. Ironis anak-anak sekecil itu diperalat memaki-maki orang lain dan meneror siswa lain. Karena kemarin anak-anak itu seolah dibiarkan dan tidak ada satupun guru yang menghentikan,” paparnya, Jumat (27/2/2015).

Meski sudah mengendus siapa aktornya, pihaknya tidak akan membenci atau balas bereaksi. Akan tetapi, ia justru akan memberikan pemahaman dan hanya meminta aktor itu berhenti memperalat anak-anak hanya demi melampiaskan kekecewaannya. Sebab, tindakan membakar anak SD untuk berdemo dan meneror siswa SDN lain itu sudah melanggar kode etik pendidikan dan memberikan pelajaran buruk terhadap siswa.

“Kalau soal kecewa, justru kami dari alumni SDN Mojo yang pertama kali teriak kecewa dengan merger ini. Kami berjuang dari 2010 agar SDN Mojo dibangun lagi, tapi toh akhirnya kami harus realistis bahwa penggabungan ini juga untuk kepentingan bersama. Makanya, kami minta SDN 5, 8 dan SDN Mojo sudahlah semua saling menghargai sebagai sebuah keluarga besar. Toh semua demi kepentingan pendidikan anak-anak kita juga,” tandasnya.

Ia berharap wali murid SDN 5 dan 8 tidak mudah terporovokasi karena konflik yang disulutkan itu justru akan merugikan anak-anak sendiri. Indikasi pembiaran dan adanya api dari dalam itu juga terlihat ketika demo berlangsung, tidak ada satu pun guru SDN 5 maupun 8 yang mencoba menghentikan anak-anak yang berdemo. Bahkan beberapa guru malah menutup pintu ruangan kantor. Begitu pula saat dimintai konfirmasi, semua guru memilih bungkam.

Wardoyo