JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Bappeda KLaten Kaji Alat Pengusir Tikus Frekuensi Ultrasonic

Bappeda KLaten Kaji Alat Pengusir Tikus Frekuensi Ultrasonic

465
BAGIKAN
Suseno menjelaskan cara kerja peralatan ultra sonik pengusir tikus | Dani Prima
Suseno menjelaskan cara kerja peralatan ultra sonik pengusir tikus | Dani Prima

KLATEN – Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Klaten bekerjasama dengan seorang inventor atau penemu melakukan kerjasama pengembangan  alat pencegahan serangan tikus yang menggunakan frekuensi ultrasonic. Alat yang bernama Midges Rice oleh sang penemu Suseno  diciptakan dari latarbelakang meningkatnya hama tikus yang menyerang padi didaerah Klaten sehingga banyak petani yang mengalami gagal panen. Dalam kegiatan yang diadakan di salah satu ruang Bappeda Klaten pada Jumat (27/2) ini, Suseno memaparkan fungsi Midges Rice sebagai alat pengusir tikus yang ramah lingkungan.

“Alat ini menggunakan frekuensi ultrasonik untuk membuat bingung tikus. Bentuk alat ini sederhana, hanya tiang besi yang dilengkapi dengan pemancar gelombang. Jika diterapkan pada lahan sawah, Midges Rice yang berkekuatan suara hingga 150 desibel (db) ini dapat melindungi hingga 900 meter persegi disekitarnya,”jelas Suseno, Jumat (27/2/2015).

Suseno melanjutkan, sumberdaya alat tersebut adalah sebuah aki yang berkekuatan 12 volt dan menghasilkan daya 20 watt. Midges Rice, menghasilkan bunyi ultrasonik diatas 20 ribu hertz. Menurutnya, bunyi tersebut hanya dapat didengar oleh hewan pengerat serta berbagai berbagai hama pengganggu.

“Alat ini tidak akan mengganggu aktifitas manusia. Karena frekuensi tersebut hanya dapat didengar oleh hama pengganggu. Suara ultrasonik akan membuat hewan kebisingan dan bingung, sehingga lari ke tempat lain, “tuturnya

Sementara itu, Kabid Pendataan Evaluasi Penelitian dan Pengembangan Bappeda Klaten, Nurul Bariyah mengatakan, Bappeda Klaten dalam kegiatan kerjasama ini baru dalam tahap kajian, karena sebagai jembatan antara sang penemu alat dengan pelaksana teknis atau pengguna, yakni Dinas Pertanian (Dispertan) Klaten.

Nurul melanjutkan, setiap karya yang telah dipresentasikan tidak langsung lolos, dan diterapkan di lapangan. Namun harus diuji lapangan terlebih dahulu. Untuk hal tersebut, pihaknya akan langsung menyerahkan kepada Dispertan Klaten.

“Untuk kerjasama dengan para penemu memang sudah lama kami lakukan. Berbagai barang yang bermanfaat bagi warga, seperti pengiris ketela, tempe dan penghasil briket sampah telah tercipta dan digunakan. Namun demikian, upaya tersebut harus melalui tahap pengujian oleh dinas teknis terkait. Jika memang benar-benar mampu mengatasi kesulitan warga, baru kemudian kerjasama berlanjut,”jelasnya.

Dani Prima