JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Belum Dapat Ganti Rugi, Warga Bantaran Bengawan Solo Pilih Tidur dengan Banjir

Belum Dapat Ganti Rugi, Warga Bantaran Bengawan Solo Pilih Tidur dengan Banjir

224
BAGIKAN
Warga melintas di tanggul Urban Forest Pucang Sawit Solo. Area Urban Forest banjir terkena luapan Sungai Bengawan Solo, Selasa (10/02/2015)_Foto_Maksum N F
Warga melintas di tanggul Urban Forest Pucang Sawit Solo. Area Urban Forest banjir terkena luapan Sungai Bengawan Solo, Selasa (10/02/2015)_Foto_Maksum N F

SOLO– Rabu (11/2/2015) siang Wuryani masih melakukan aktifitasnya seperti biasa. Menjemur cucian, menyapu dan mengurus rumahnya yang ada di Beton, Kelurahan Sewu. Tingginya air Sungai Bengawan Solo tidak serta merta menyurutkan nyali nenek 63 tahun itu. Padahal, jarak rumah Wuryani hanya beberapa meter dari bibir sungai. Tetapi, apa mau dikata sepertinya tidak ada jalan lain bagi Wuryani selain tetap bertahan di bantaran.

Bukan karena tidak takut kebanjiran. Tetapi, lebih pada tidak adanya ongkos untuk pindah dari kawasan rawan banjir itu. Pengajuan program ganti rugi tanah Hak Milik (HM) yang diajukannya beberapa waktu lalu, sampai kemarin belum juga ada kepastian.

Padahal, dirinya sudah melengkapi seluruh persyaratan administrasi yang dibutuhkan. Apa boleh buat, Wuryani dan kelurganya harus tetap bertahan sampai proses ganti rugi cair.

Sudah puluhan tahun Wuryani menempati rumah tua itu. Dirinya pun hafal benar kondisi-kondisi air sungai Bengawan Solo, jika sudah dalam tahap berbahaya.

“Kalau air sampai lutut tetapi kemudian surut ya saya tidak mengungsi, karena itu tidak akan terjadi banjir. Tetapi kalau sampai air tidak kunjung surut berarti air akan bertambah dan ini tanda banjir. Saya langsung mencari tempat aman,” terang perempuan yang hampir seluruh rambutnya beruban itu.

Saat ini di bantaran Sungai Bengawan Solo hanya tinggal beberapa rumah saja. Itu pun, mereka yang memiliki sertifikat resmi. Sebagian mereka sudah melengkapi syarat ganti rugi dari pemerintah. Sebagian lainnya, masih bertahan dengan berbagai alasan.

Wuryani sebenarnya juga ingin segera pergi dari zona banjir itu. Tetapi, bukan karena ancaman banjir, melainkan sudah tidak ada tetangga lagi. Ia berencana tinggal dirumah anaknya dikawasan Jajar.

Tetapi, sebelum adanya ganti rugi yang dijanjikan pemerintah cair. Wuryani akan tetap bertahan dibantaran, apapun resikonya.

“Kalau nanti dapat gantirugi dari pemerintah, saya mau pindah ke tempat anak di Jajar. Kalau disini sudah tidak punya tetangga lagi, kalau dulu banyak tetangganya. Tetapi mereka sudah mendapatkan gantirugi, sehingga sudah pindah,” kenang Wuryani.

Lurah Bumi Hernoch Sadono saat ditemui Joglosemar dikantornya mengatakan, setiap hari dirinya terus patroli dikawasan bantaran. Karena, lokasi tersebut menjadi satu-satunya kawasan Kelurahan Sewu yang paling rawan kebanjiran.

Dari data Kelurahan, masih ada 24 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal dibantara. Mereka adalah para pemilik tanah HM. Hernoch pun tidak mau, warganya menjadi korban banjir yang saat ini sedang mengancam kawasan Solo.

“Kita hampir setiap hari terus memantau kondisi bantaran, karena masih ada 24 KK, dari jumlah itu ada sebagian anak-anak dan perempuan. Sehingga, jika nantinya terjadi banjir langsung bisa dievakuasi,” katanya.

Untuk lokasi evakuasi, Hernoch akan menggunakan bangunan Joglo kelurahan.

Ari Purnomo