JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Derita Misiyem, 11 Tahun Digerogoti Kanker Ganas

Derita Misiyem, 11 Tahun Digerogoti Kanker Ganas

625
BAGIKAN
KANGKER- Misiyem (40) warga kikis Rt 002/ RW 10, Gedawung, Kismantoro,  menderita kangker ganas tampak duduk dengan tegar  saat dijenguk Listyorini  istri camat Kismantoro, Kamis (29/1)
KANGKER- Misiyem (40) warga kikis Rt 002/ RW 10, Gedawung, Kismantoro, menderita kangker ganas tampak duduk dengan tegar saat dijenguk Listyorini istri camat Kismantoro, Kamis (29/1)

MALANGNYA nasib Musiyem, tubuh perempuan berusia 40 tahun itu digerogoti kanker ganas. Namun demikian, sorot matanya menyiratkan semangat hidup, melawan penyakit yang perahan bakal merenggut nyawanya. Ironisnya, tak ada uluran tangan pemerintah daerah untuk menyelamatkan nyawa perempuan yang tinggal di lereng Gunung Kikis, Kecamatan Kismantoro Wonogiri ini.

Ibu empat anak yang tinggal di dukuh Kikis Rt 002/ Rw 10, Desa Gedawung, Kecamatan Kismantoro itu menuturkan penyakit mematikan itu telah di deritanya sejak 11 tahun yang lalu. Seingatnya penyakit tersebut diketahui pasca persalinan anaknya yang paling bungsu. “

”Saya tidak tau dulu ini sakit apa, wong tidak terasa sakit cuma perut saya kok membesar. Kata dokter di Purwantoro  ini kanker kandungan,” ujarnya.

Latar belakang pendidikan yang rendah, informasi yang kurang mengenai ganasnya kanker yang dapat merenggut nyawanya membuat Musiem tak menggubris penyakit itu. baru 6 tahun belakangan tubuhnya mulai terasa sakit akibat kanker ganas yang terus menggerogoti tubuhnya.

Tubuh musiyem tampak kurus, sementara massa kanker ganas terus membesar, bahkan saat ini seperti membelit tubuhnya, lantaran menjalar ke bagian punggung. Musiem mengaku tak dapat lagi berjalan jauh. Ia mengaku hanya dapat berjalan bebrapa langkah saja. tubuhnya tidak lagi mampu menopang massa tumor yang terus membesar.

Sekarang kalau mau berdiri saja sulit, setiap hari hanya dirumah saja. Kalau tidur sudah tidak bisa nyenyak, rasanya sakit, tidurnya miring,” keluhnya

Ia mengaku pernah berobat Di RSUD Wonogiri, seingatnya pada tahun 2005. Doktermenyarankan untuk operasi, namun  ia mengaku trauma lantaran pernah ada tetangga yang meninggal kerena operasi. Ia pun lantas memilih pengobatan alternartif di madiun. Tabib mengatakan kepadanya bahwa tidak perlu datang lagi, lantaran sudah sembuh. Sebab tabib mengeluarkan penyakit yang bersarang di tubuh Muisyem.

Tak Punya BPJS

Keterbatasan ekomoni menjadi kendala baginya untuk menjalani pengobatan. Maklum saya akses menuju kota sangat jauhh, dari lereng gunung kikis ke Kecamatan Kismantoro membutuhkan waktu kurang lebih satu jam dengan kendaraan bermotor. Sementara dari Kismantoro menuju RSUD Wonogiri memakan waktu dua jam lebih. Ia pun masih harus merasakan sakit akibat guncangan bus yang di tumpanginya.

Selain itu, kebijakan pemerintah pusat juga tidak dirasakannya. Musiem mengaku tidak memiliki kartu BPJS. Ia pun harus bertahan menghadapi penyekit mematikan itu dengan berbekal semangat hidup. “Tidak punya BPJS, dulu kalau berobat ya biaya sendiri, sekarang suami saya sudah tidak bekerja, jadi tidak bisa berobat. Ya pasrah saja, tapi sebenarnya saya pengen sembuh,” ungkapnya mengundang haru

Sementara itu, Kisut  (55), suami Musiyem mengaku sudah tidak bekerja sejak 6 tahun terakhir, lantaran kondisi istrinya yang sudah sangat mengkhawatirkan. Dari ke empat anaknya lestari 25, sigit (23) , susanti (18), marsudi (12), yuli (11), hanya putra kedua yang bekerja.

“Saya suma kerja serabutan, sekarang sudah tidak lagi. Menjaga istri saya, ini tadi anak saya pamit merantau untuk memenuhi kebutuhan kami,” ujarnya

Listyorini, istri  Djoko Purwidyatmo camat baru Kismantoro,  yang  saat itu menjenguk Musiyem mengaku sangat prihatin. “Saya turut prihatin, sejak pindah kesni ya baru tau. Nanti coba saya sampaikan pada suami saya biar mencari jalan keluar, mungkin dari kecamatan bisa membantu pada kebutuhan sehari harinya,” ujarnya

Sementara itu, Indah Retno mantan anggota DPRD wonogiri dari PDI Perjuangan pernah berupaya memberi pertolongan pada Musiyem. “Dulu mau di operasi tapi takut, mungkin trauma karena dulu juga ada yang oprasi kanker lantas meninggal. Tapi nanti coba saya carikan bantuan mungkin, dengan jamkes prov bisa,” katanya.

Arief Setiyanto