JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Dinas Kesehatan Sukoharjo Deteksi Masih Banyak Jajanan Beracun Beredar

Dinas Kesehatan Sukoharjo Deteksi Masih Banyak Jajanan Beracun Beredar

337
BAGIKAN
ilustrasi
ilustrasi

SUKOHARJO—Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo mendeteksi jajanan-jajanan yang mengandung zat berbahaya bagi kesehatan anak. Berdasarkan 856 sampel jajanan dari pedagang keliling yang sering mangkal diluar pagar sekolah, 5 persen diantaranya mengandung formalin, boraks, dan zat pewarna tekstil.

Ketiga jenis zat kimia itu sangat berbahaya jika dikonsumsi manusia dalam jangka panjang. Karena dapat memicu pertumbuhan kankere dan kerusakan ginjal dan sebagainya. Kepala DKK Sukoharjo, Guntur Subiantoro, menjelaskan dari sampel yang diambil petugas selama tahun 2014 silam, ketiga jenis bahan kimia itu terkandung dalam sejumlah jajanan.

Diantaranya sosis instan, stik pedas, agar-agar, cincau, mie lidi, mie basah, permen tusuk, dan berbagai jenis tempura. Sampel tersebut diambil dari pedagang keliling yang sering mangkal diluar pagar sekolah-sekolah. “Selama tahun 2014, kami mengetes berbagai makanan yang dijual di sekolahan-sekolahan. Dari 856 jajanan yang diteliti, lima persennya terdeteksi tiga zat kimia. Seperti formalin, borax, dan zat pewarna tekstil,” terang Guntur, Senin (16/2/2015).

Dikatakan, pengetesan jajanan itu dilakukan rutin setiap sepekan sekali. Menurut dia, hasil pengetesan dapat diketahui seketika itu juga. Sehingga jika pedangan kedapatan positif mengandung formalin, boraks, atau zat pewarna tekstil, pedagang langsung diberi pembinaan di tempat.

“Kami belum bisa melaksanakan setiap hari karena terkendala jumlah petugas yang kurang memadai. Saat operasi kadang mendapat perlawanan petugas,” katanya.

Ditegaskan Guntur, pedagang juga diberi pemahaman tentang UU No. 36/2009 tentang Kesehatan. “Kami selalu memeberi penjelasan kalau mereka (pedagang yang nekat mencampurkan bahan kimia berbahaya dalam makanan) dapat diproses hukum. Biar ada efek jera,” tandasnya.

Selain itu, pihaknya juga meminta setiap sekolah proaktif dalam menyikapi jajan berbahaya ini. Paling tidak, memberi pengertian kepada siswa tentang bahaya zat kimia dalam makanan instan yang sering dijajakan di luar sekolahan bagi kesehatan manusia.

“Kami sudah mengimbau sekolah-sekolah agar menyediakan makanan sehat di kantin sekolah,” pungkasnya.

Sofarudin