JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Eksekusi Terpidana Mati di Lapas Wirogunan Belum Jelas

Eksekusi Terpidana Mati di Lapas Wirogunan Belum Jelas

202
BAGIKAN

 

 

ilustrasi
ilustrasi

JOGJA – Eksekusi terhadap terpidana mati kasus penyelundupan narkoba Mary Jane Fiesta warga Negara Filipina yang ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Wirogunan, Yogyakarta masih belum ada kepastian untuk waktu eksekusinya meskipun permohonan grasi telah ditolak oleh Presiden.

“Meski permohonan grasi oleh salah satu terpidana mati Mary Jane Fiesta ditolak oleh Presiden, namun hingga kini kami belum menerima surat tentang dilakukannya eksekusi mati terhadap terpidana kasus narkoba tersebut,” kata Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Yogyakarta Zaenal Arifin, Rabu.

Menurut dia, Mary Jane Fiesta (29) merupakan kurir sabu-sabu jaringan internasional. Ia ditangkap di Bandar Udara Adisutjipto Yogyakarta saat membawa heroin seberat 2,622 kilogram pada 24 April 2010.

Hakim Pengadilan Negeri Sleman menjatuhkan hukuman mati karena ia terbukti melanggar Pasal 114 ayat 2 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika,” katanya.

“Terpidana ini telah menerima surat penolakan grasi oleh Presiden Joko Widodo melalui Kepres No.31/G 2014. Namun meski telah dua minggu menerima surat penolakan grasi tersebut, kami belum menerima surat resmi tentang kapan eksekusi perempuan asal Filipina itu dilakukan,” katanya.

Zaenal mengatakan, Mary Jane Fiesta, di Lapas Wirogunan Yogyakarta ini terdapat tiga terpidana mati dalam kasus pemerkosaan dan pembunuhan berencana terhadap seorang siswi SMK, yang salah satunya adalah mantan anggota polisi.

Mereka adalah Hardani, mantan polisi berpangkat brigadir saat memperkosa dan merencanakan pembunuhan pada 2013. Bapak dan anak yang juga diputus Mahkamah Agung dengan hukuman mati adalah Khoiril Anwar dan anaknya, Yonas Revalusi.

“Hardani akan mengajukan grasi kepada Presiden. Sedangkan Khoiril dan Yonas akan mengajukan peninjauan kembali,” katanya.