JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Fogging Bukan Solusi Pembasmian Nyamuk Demam Berdarah

Fogging Bukan Solusi Pembasmian Nyamuk Demam Berdarah

404
BAGIKAN
ilustrasi
ilustrasi

KARANGANYAR – Upaya pemberantasan nyamuk Aedes Aegepty penyebab demam berdarah (DB) melalui fogging atau pengasapan dinilai hanya bersifat sesaat. Pasalnya, tindakan tersebut tidak serta merta membunuh jentik-jentik nyamuk yang berkembang biak di genangan air.

Kepala Bidang Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Fatkhul Munir mengatakan, selama ini ada salah pemahaman masyarakat yang menganggap fogging menjadi solusi untuk mengatasi DB. Untuk itu, masyarakat diminta tidak menggantungkan pemberantasan nyamuk melalui metode tersebut.
“Fogging hanya akan membunuh nyamuk dewasa. Sedangkan jentik nyamuk yang biasanya ada di genangan air tidak akan mati. Kalau kita cermati, nyamuk dewasa yang terbang itu tidak seberapa dibanding jentiknya. Sebaiknya masyarakat jangan mengandalkan fogging jika ingin memberantas DB,” ujar Munir, kemarin.
Menurut Munir, selama ini kerap muncul persepsi dari masyarakat bahwa fogging menjadi solusinya instan untuk memberantas nyamuk Aedes Aegepty. Padahal, kenyataannya jentik-jentik nyamuk masih dapat berkembang kendati sudah dilakukan pengasapan sebelumnya.
“Sebenarnya tidak, sebab fogging itu sifatnya hanyalah untuk
sementara. Dan itu dilakukan setelah ada penelitian kalau di wilayah tertentu perkembang biakan nyamuknya sudah tidak dapat dikendalikan lagi,” sebutnya.
Ketimbang mengadalkan fogging, cara paling ampuh untuk mengantisipasi atau mencegah DB yang dengan melakikan 3M (mengubur, menutup dan membersihkan) sarang nyamuk pada lokasi yang berpotensi pada berkembangnya jentik-jentik nyamuk.
Namun demikian, membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, menjadi sesuatu yang cukup sulit dilakukan. Pasalnya kerap kali masyarakat mengabaikan ajakan untuk menjaga lingkunhan meski telah berulang kali mendapatkan sosialisasi seputar masalah DB.
“Menjaga kebersihan lingkungan itu kuncinya. Namun ada tidaknya kasus DB itu ya dari masyarakat sendiri. Kalau mereka sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan, kasus DB bisa ditekan,” tandas Munir.
Sementara itu, beberapa waktu lalu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam kunjungannya di Karanganyar mendorong agar generasi muda lebih aktif dalam kegiatan pencegahan DB. Dia berharap generasi muda lebih mau untuk terlibat, salah satunya dengan menyosialisasikan tindakan pencegahan hingga terjun langsung dalam gerakan antisipasi DB.
“Maukah kita partisipasi dalam 3M? Mari kita mulai menjadi pemburu jentik. Sebab kalau fogging itu masih berada di hilirnya. Sementara hulunya harus kita perbaiki dulu,” kata Ganjar.
Sebagai catatan, pada 2014 di Karanganyar tercatat 520 kasus DB di 11 kecamatan, dengan empat korban meninggal. Sementara, pada awal 2015  sudah terjadi 53 kasus DB, dengan dua orang korban meninggal.
Putradi Pamungkas