JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia Galang Dana untuk Sembuhkan Gajah Sumatera

Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia Galang Dana untuk Sembuhkan Gajah Sumatera

251
BAGIKAN
Gajah Sumatera | Foto: ensiklopediaindonesia.com
Gajah Sumatera | Foto: ensiklopediaindonesia.com

LAMPUNG– Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (Foksi)akan menggalang dana pembelian obat untuk menyelamatkan gajah sumatera (Elephas maximus sumateranus) di Way Kambas, Lampung, yang saat ini terserang virus herpes.

Wakil koordinator Foksi Sulhan Syafi’I di sela-sela Orientasi Wartawan Konservasi (Owa-K) di Taman Safari Prigen, Pasuruan, Jatim, Minggu menjelaskan keperluan dana untuk pengadaan obat herpes yang sejak November 2014 hingga Februari 2015 telah mematikan enam anak gajah itu mencapai puluhan juta rupiah.

“Untuk penggalangan dana ini bisa uang bisa juga dalam bentuk obat. Ini untuk menyalamatkan gajah-gajah itu. Penggalangan dana ini ke siapapun, terutama jaringan yang pernah membantu Foksi. Siapapun boleh membantu,” katanya.

Sulhan mengemukakan, penyakit akibat virus herpes ini harus segera diputus rantainya karena sifatnya menular. Bahkan diduga virus itu ada pada induk gajah sehingga rentan menular pada anaknya.

Mengenai penggalangan dana ini, hal yang sama pernah dilakukan Foksi ketika sejumlah gajah sumatera di Way Kambas beberapa tahun lalu terkena penyakit cacingan. Foksi kala itu berhasil mengumpulkan obat hingga mencapai enam kuintal dan berhasil menyelamatkan gajah-gajah tersebut.

Sementara tim kesehatan hewan Taman Safari Indonesia (TSI) II Prigen, Pasuruan, drh Nanang Tejolaksono mengatakan dari laporan yang diterima dari Way Kambas, lima gajah yang mati pada November 2014 dan satu ekor pada Februari 2015 semuannya masih anakan.

“Penyakit elephant endotheliotropic herpes viruses (EEHV) ini pernah menyerang gajah di Afrika, kemudian di Kamboja dan Thailand. Masa inkubasi virus ini satu sampai lima hari dengan menyerang pembuluh darah dan memicu detak jantung yang cepat sehingga menimbulkan kematian,” kata pemegang buku silsilah gajah sumatera ini.

Menurut dia, virus paling mematikan dari varian EEHV ini adalah jenis 1A dan 1B, namun untuk kematian gajah sumatera ini pihaknya belum bisa memastikan jenisnya karena masih dilakukan uji laboratorium. Pihaknya berharap agar hasil uji sampel gajah mati itu bisa segera diketahui penyebabnya sehingga gajah-gajah lainnya bisa terselamatkan.

Sementara untuk koleksi TSI sendiri, kata Nanang, meskipun belum ada gejala,  akan dilakukan pemisahan anakan dengan induknya kemudian dilakukan pengujian lewat air liurnya apakah gajah-gajah itu membawa virus tersebut

ANTARA