JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Gusti Puger: Stop Bicara Ngawur Soal Hari Jadi Surakarta

Gusti Puger: Stop Bicara Ngawur Soal Hari Jadi Surakarta

518
BAGIKAN
KGPH Puger (berbaju Pangeran)
KGPH Puger (berbaju Pangeran)

SOLO– Pengageng Kasentanan Keraton Surakarta, Kangjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Puger, menyatakan sebaiknya jangan ada pembelokan sejarah dalam peringatan hari jadi Kota Solo, yang diperingati setiap tanggal 17 Februari. Karena faktanya tanggal itu merupakan peristiwa Boyong Kedhaton, yang merupakan penanda berdirinya Nagari Gung Surakarta Hadiningrat.
“Kenapa Pemerintah tak pernah menyinggung soal Negara Surakarta? Apa malu punya aset kebudayaan nasional bernama Keraton Surakarta sehingga tak pernah disinggung sejarah tersebut?,” kritik Gusti Puger, Selasa (17/2/2015).
Lebih lanjut menurutnya, jika memakai nama hari jadi kota Solo, kata Solo sendiri sebenarnya dari nama Sala. Yaitu sebuah desa, yang merupakan wilayah Kerajaan Mataram Islam.
Dan desa Sala sendiri saat akan dibangun Keraton, para penduduknya, termasuk Kiai Sala, yang merupakan sesepuhnya sudah diberikan ganti untung oleh Raja SISKS Paku Buwana II.
Yang lebih menyakitkan lagi adalah, saat didengungkan sejarah soal peristiwa Boyong Kedhaton, yang disebut-sebut seolah ada konflik antara etnis Tionghoa, dengan Keraton Surakarta yang bersekutu dengan VOC.
“Padahal fakta sejarahnya tidak seperti itu. Ironisnya ada beberapa kawan sejarahwan hanya sekadar membaca teks, yang sebenarnya jika dilogika teks itu bersifat adu domba,” jelas Gusti Puger.
“Siapa bilang Keraton bermusuhan dengan Tionghoa? Pembangunan klentheng Tien Kok Sie di Pasar Gede, dan diangkatnya beberapa tokoh Tionghoa menjadi pegawai Keraton, merupakan fakta jika sebenarnya tak pernah ada masalah antara etnis Jawa dengan etnis Tionghoa,” bebernya.
Untuk itu Gusti Puger meminta agar para sejarahwan, dan budayawan memaparkan sebenarnya data ilmiah yang shahih, valid, dan rasional.
“Jangan paparkan data abal-abal soal peristiwa Boyong Kedhaton atau Adeging Nagari Surakarta. Karena itu adalah penyesatan sejarah, dan dosa besar jika sampai dianggap sebagai sebuah kebenaran,” tegasnya.
Deniawan Tommy Chandra Wijaya