JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Hasil Tangkapan Ikan Nelayan Pantai Depok Berkurang

Hasil Tangkapan Ikan Nelayan Pantai Depok Berkurang

333
BAGIKAN

 

Nelayan tradisional di perairan Jepara | Ari Kristyono
Nelayan tradisional di perairan Jepara | Ari Kristyono

BANTUL – Ikan hasil tangkapan nelayan Pantai Depok, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebanyak 83,274 ton pada 2014 menurun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 125,173 ton.

“Penurunan produksi ikan tersebut kemungkinan karena gelombang besar yang terjadi pada masa itu, sehingga perahu tidak bisa melaut,” kata Sekretaris II Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Mina Bahari Depok, Bantul, Kusmadi, Jumat (27/2/2015).

Menurut dia, selain kondisi gelombang laut yang kurang bersahabat, setidaknya selama 2014 terjadi masa paceklik ikan selama kurang lebih tiga bulan, sehingga hasil tangkapan nelayan menurun.

“Masa paceklik terjadi pada musim dingin antara Juni sampai Agustus, dan saat itu tidak ada ikan yang menepi,” kata dia.

Sementara itu, kata dia, penurunan produksi ikan nelayan tersebut juga terlihat dengan jumlah trip atau perjalanan melaut nelayan yakni sebanyak 4.136 kali selama 2013, sementara pada 2014 sebenyak 3.719 kali.

Kusmadi mengatakan, jenis ikan yang diproduksi nelayan Pantai Depok sebagian besar adalah ikan layur, kemudian ikan tongkol, bawal putih, teri dan berbagai ikan laut lainnya seperti kakap, tengiri dan udang.

“Setiap musim jenis ikan yang ditangkap tidak sama, seperti musim seperti ini sebagian besar justru bawal, bahkan sudah dua bulan ini ikan cenderung bawal, sementara ikan layur sedikit-sedikit,” katanya.

Ia mengatakan, saat ini nelayan yang rutin menggunakan jasa TPI Mina Bahari Depok untuk memasarkan ikan tangkapan ada sekitar seratus orang, dengan jumlah perahu sekitar 50 unit, karena setiap perahu dikemudikan dua nelayan.

“Setiap hari yang pergi melaut jumlahnya tidak sama, rata-rata sekitar 20 sampai 30 perahu per hari dengan hasil tangkapan mulai dari belasan kilogram hingga puluhan kilogram ikan,” katanya.

Antara | Heri Sidik