JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Hina Papua, Cita Citata Terancam Dipidanakan

Hina Papua, Cita Citata Terancam Dipidanakan

777
BAGIKAN
Artis Cita Citata. Foto : Instagram Cita Citata
Artis Cita Citata. Foto : Instagram Cita Citata

JAKARTA– Pernyataan menyudutkan dan menghina masyarakat Papua oleh pedangdut Cita Citata melalui satu televisi swasta nasional tetap diproses secara hukum, kata Fien Yarangga dari Jaringan Hak Asasi Manusia (HAM) Perempuan Papua.

“Tentunya hal itu harus dipertanggungjawab didepan hukum,” katanya kepada wartawan di Kota Jayapura, Minggu (22/2/2015), menanggapi pernyataan pelantun “Sakitnya Tuh di Sini” dan “Goyang Dumang” itu.

Menurut dia, klarfikasi dan permintaan maaf yang disampaikan Cita Citata di televisi beberapa hari belakangan ini tidak langsung menyelesaikan penghinaan yang terlanjur menyakiti hati orang Papua.

“Pernyataan Cita Citata sangat melecehkan martabat kaum perempuan Papua, dia harus bisa bertanggungjawab sebagai seorang publik figur,” katanya.

Yarangga menyampaikan bahwa pihaknya bersama Forum Kerjasama (Foker) LSM Papua telah menyerahkan persoalan tersebut kepada penasihat hukum Yan Christian Werinussy untuk dikaji lebih dalam dan dalam waktu dekat akan menempuh jalur hukum.

“Harapannya persoalan dari Cita Citata ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa tidak sepatutnya mengeluarkan pernyataan yang bisa menyudutkan salah satu suku, etnik, budaya yang ada di Indonesia,” kata Fien Yarangga.

Sementara itu, Betty Ibo aktivis buruh Papua secara tidak langsung telah menggambarkan bahwa pandangan orang pada umumnya terhadap orang Papua adalah diskriminasi.

“Itulah jika kita tarik kesimpulan yang dia sampaikan Cantik sih memang cantik, tapi saya harus dirias dulu biar cantik, nggak seperti Papua,” katanya, menirukan ucapan Cita Citata melalui satu televisi swasta nasional.

Menurut dia, persoalan Cita Citata menjadi teguran dan pembelajaran bagi semua pihak yang ada di Tanah Air.

“Jangan sekali-kali menggunakan kata-kata atau kalimat yang bisa berdampak pada diskriminasi atau menjelekkan suku tertentu di Indonesia,” demikian Betty Ibo.

ANTARA