JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Indonesia Masih Kekurangan Bahan Baku Jamu

Indonesia Masih Kekurangan Bahan Baku Jamu

261
BAGIKAN
Ilustrasi
Ilustrasi

KARANGANYAR – Kementerian Kesehatan (Kemkes) membutuhkan dukungan pasokan bahan baku jamu seiring meningkatnya jumlah pasien klinik saintifikasi jamu.

“Jejaring saintifikasi jamu sekarang ada 384 dokter, 68 apoteker. Sekarang masih sedikit yang buka praktik klinik jamu, jadi masih cukup, kalau semua buka kita tidak kuat,” kata Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Indah Yuning Prapti di Tawangmangu, Kamis (5/2/2015).

Saat ini, menurut dia, baru 27 persen atau sepertiga dokter saintifikasi jamu yang aktif membuka praktik. Sementara semua bahan baku jamunya berasal dari B2P2TOOT Tawangmangu.

“Mereka sudah percaya bahan baku dari sini sudah baik. Karena sejak dari benih sampai jamu ikuti peraturan yang berlaku, di budidaya gunakan good agriculture practice sedangkan di pascapanen gunakan good handling practice,” ujar Indah.

Guna mencukupi kebutuhan bahan baku jamu yang akan semakin bertambah, ia berharap di setiap kabupaten memiliki semacam mini model B2P2TOOT Tawangmangu. “Seandainya pun tidak, minimal punya sumber bahan baku seperti di sini. Jadi, mereka harus bisa merangkul petani”.

Pembudidayaan tanaman obat, kata dia, sebenarnya masih termasuk domain Kementerian Pertanian. Namun sejauh ini dukungan pasokan bahan baku yang diharapkan tersebut belum dapat dipenuhi. Menurut Indah, saat ini Klinik Saintifikasi Jamu atau Hortus Medicus menyiapkan 200 kg temulawak dan 180 kg kunyit setiap hari. Namun jika jejaring saintifikasi jamu semakin berkembang maka bahan baku yang tersedia harus lebih banyak dari itu.

Sementara itu, Dirjen Bina Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Linda Maura Sitanggang mengatakan penyediaan bahan baku obat tradisional memang bukan sesuatu yang mudah.  “Karena harus ada proses budidaya. Kita untuk mendorong bagaimana penyediaan bahan baku obat tradisional memang harus dilakukan lintas Kementerian, sehingga pembinaan dari berbagai aspek bisa dilakukan secara sinergi,” ujar dia.

Virna P Setyorini | Antara