JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Ini Dia Fakta Soal Hari Jadi Surakarta

Ini Dia Fakta Soal Hari Jadi Surakarta

328
BAGIKAN
BALIHO PENGGABUNGAN DIS--warga mengamati baliho peringatan 68 tahun NKRI dan penggabungan Daerah Istimewa Surakarta yang terpasang di Kawasan Gladag, Solo, Selasa (20/8). Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo
BALIHO PENGGABUNGAN DIS–warga mengamati baliho peringatan 68 tahun NKRI dan penggabungan Daerah Istimewa Surakarta yang terpasang di Kawasan Gladag, Solo, Selasa (20/8). Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

SOLO– Tanggal 17 Sura 1670 Jawa atau tanggal 20 Februari 1745 Masehi, adalah hari yang bersejarah bagi kota Surakarta. Ya, karena di hari itulah, Nagari Gung Surakarta Hadiningrat resmi diproklamasikan.

Namun kisah yang jarang diungkap, jika sebelum bertahta di Surakarta, SISKS Paku Buwana (PB) II ternyata pernah menggelar pemerintahan darurat di Ponorogo, Jawa Timur sekitar bulan Juli tahun 1742. Tepatnya di dusun Kentheng, Ponorogo.

PB II menggelar pemerintahan darurat di Ponorogo, karena di Keraton Kartasura saat itu sedang terjadi huru-hara, hingga puncaknya terjadi peperangan antara pasukan RM Garendi dengan pasukan VOC.

“Ya, jengkarnya PB II ke Ponorogo tercatat dengan candra sengkala Swara Karungu Olahing Bumi, atau tahun 1742 Masehi,” jelas Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Puger, Pengageng Kusuma Wandawa Keraton Surakarta.

Di Ponorogo, PB II menetap hingga lima bulan, dan di tanggal 21 Desember tahun 1742, PB II akhirnya pulang kembali ke Kartasura. Setibanya di Kartasura, PB II akhirnya memutuskan untuk memindahkan lokasi Keraton Kartasura, karena kondisi Keraton yang sudah porak poranda akibat perang.

“PB II kemudian mengutus Tumenggung Tirtawiguna, Kyai Kalipah Buyut, Mas Pangulu Pekih Ibrahim, dan RNg Yosodipuro untuk mencari tanah yang akan didirikan Keraton. Disitu muncul 3 opsi, yaitu desa Talawangi atau Kadipolo, desa Sonosewu, dan desa Sala,” jelas Gusti Puger.

Dan akhirnya dipilihlah desa Sala sebagai lokasi keraton yang baru. Hingga akhirnya pada tanggal 17 Sura 1670 Jawa atau, Sabtu, 20 Februari 1745 terjadi peristiwa kirab Boyong Kedhaton, dari Kartasura ke Sala dengan candra sengkala Kombuling Pudya Kapyarsi ing Nata.

“Keraton tersebut diberi nama Surakarta Hadiningrat, yang dikenal hingga sekarang,” jelas Gusti Puger.

Deniawan Tommy Chandra Wijaya