JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Ini Dia Kesaksian Korban Angkutan Nyemplung Jurang di Karangpandan

Ini Dia Kesaksian Korban Angkutan Nyemplung Jurang di Karangpandan

475
BAGIKAN
TERJUN KE JURANG - Sebuah angkutan desa jurusan Matesih – Karangpandan terjun ke jurang di kawasan Dukuh Banjar, Desa Gerdu, Kecamatan Karangpandan, Rabu (11/2) pagi. Akibat kejadian itu, 1 penumpang tewas dan 14 lainnya luka-luka. Fot: Putradi Pamungkas
TERJUN KE JURANG – Sebuah angkutan desa jurusan Matesih – Karangpandan terjun ke jurang di kawasan Dukuh Banjar, Desa Gerdu, Kecamatan Karangpandan, Rabu (11/2) pagi. Akibat kejadian itu, 1 penumpang tewas dan 14 lainnya luka-luka. Fot: Putradi Pamungkas

KARANGANYAR – Puji Rahayu (13) masih terbaring dan menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karanganyar, Kamis (12/2/2015).

Lilitan perban masih membebat kaki kanannya. Ditemani ibundanya, Tanti (45) bersama beberapa keluarganya, dirinya tampak lebih kuat dan mampu menjawab pertanyaan para wartawan. Seolah, rasa shock akibat kecelakaan yang menimpanya, Rabu (11/2) lalu telah hilang dari raut wajahnya.

Ya, siswa kelas 8C SMPN 3 Karangpandan itu menjadi satu dari puluhan siswa lainnya yang terjun ke jurang sedalam 25 meter di Dusun Banjar, Desa Gerdu, Kecamatan Karangpandan, saat menumpangi Angkudes jurusan Matesih – Karangpandan. Dirinya masih ingat betul saat-saat menjelang peristiwa itu terjadi.

“Saat itu, saya berada di pintu sambil nggandhul, sebab tak ada lagi tempat tersedia di bangku tengah. Ramai sekali. Kemudian, di atap ada sekitar 10 orang, demikian pula di belakang,” tuturnya.

Puji menceritakan, angkudes naas tersebut masih sempat menambah lagi 2 penumpang, yakni siswa SD atas nama Wahyu dan Angga, sebelum terperosok ke jurang. Dirinya terkaget saat angkudes yang hendak menikung tersebut, tahu-tahu merangsek ke tepi jurang. Warga Buntung, Gerdu, Karangpandan itu sempat melompat dari tempatnya berada.

“Sambil menahan sakit, saya naik ke lereng. Saya tak bisa berpikir apa-apa waktu itu, meski melihat teman-teman lain temangsang di semak-semak. Begitu sampai di lereng, saya ditolong warga dan diantarkan pulang,” ceritanya.

Ibunda Puji, Tamti mengaku sesungguhnya tak sampai hati anaknya harus berdesak-desakan apabila berangkat sekolah. Hanya lantaran minimnya jumlah angkudes yang ada, ia tak punya pilihan lain. Di sisi lain, SMPN 3 Karangpandan merupakan salah satu sekolah yang paling dekat dengan rumahnya.

“Dari rumah hanya 3 kilometer. Terkadang dia diantar kakaknya, hanya kebetulan kemarin pas berhalangan,” kata Tamti.Jika Puji sudah dapat berkomunikasi dengan baik, sebaliknya Sakti Atmaja, siswa kelas 9C satu sekolah Puji masih belum bisa bercerita banyak. Ditemui di Rumah Sakit PKU Karanganyar, ia mengeluhkan pusing di kepalanya, akibat luka yang dideritanya. Yang ia ingat, sebelumnya terjun ke jurang, ia berada di atap dengan Yudika dan Revangga, korban lain yang mengalami luka cukup serius. Revangga tengah menantikan proses operasi lengan dan kakinya yang patah tulang.

“Saya coba melompat dari mobil, namun jatuh ke lereng,” ucapnya singkat.

Sementara, di antara kerumunan para pembesuk yang mendatangi Rumah Sakit PKU Karanganyar, tampak sejumlah pejabat Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Karanganyar hadir disana. Kepala Disdipora Karanganyar, Sutarno sempat berujar perihal usulan mobil sekolah untuk menjemput siswa. Dirinya akan berkoordinasi dengan dinas terkait, seperti Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Karanganyar untuk membahas kemungkinan tersebut.

“Itu akan menjadi masukan Pemkab, terkait mobilisasi para siswa. Kita akan lihat kebutuhannya, sebab masalahnya sekarang banyak siswa yang memakai motor juga,” jelasnya.

Putradi Pamungkas