JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Irigasi Sungai Pusur Rusak, Petani di Lima Kecamatan Tak Bisa Panen Maksimal

Irigasi Sungai Pusur Rusak, Petani di Lima Kecamatan Tak Bisa Panen Maksimal

250
BAGIKAN
Ilustrasi | Joglosemar|Ario Bhawono
Ilustrasi | Joglosemar|Ario Bhawono

KLATEN – Saluran irigasi di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Pusur yang melintasi lima kecamatan di Kabupaten Klaten mengalami kerusakan  karena adanya sedimentasi. Hal tersebut membuat para petani di Kecamatan Tulung, Polanharjo, Delanggu, Wonosari dan Juwiring sulit untuk memaksimalkan hasil panen padi mereka.

Hal tersebut  diungkapkan oleh Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pengguna Air (GP3A) Daerah Irigasi Kecamatan Juwiring, Sumartono, Rabu (4/2/2015). Menurutnya,kerusakan  irigasi di DAS Pusur menyebabkan para petani tidak dapat memaksimalkan hasil panen mereka

Sumartono menjelaskan,  kerusakan irigasi DAS Pusur tidak hanya pada saluran primer, namun juga terjadi pada saluran sekunder hingga tersier. Kerusakan irigasi tersebut bisa terjadi karena minimnya peran aktif lembaga-lembaga pengguna air. Sehingga perlu adanya pembenahan kelembagaan.

“Saya ambil contoh untuk kedalaman bendungan idealnya tiga meter. Tapi kondisi saat ini sudah rata dengan sedimen,” ujarnya.

Sumartono mengungkapkan  di Klaten produktifitas pertanian terbaik adalah saat musim tanam (MT) III atau bersaman dengan musim kemarau. Hanya saja saat MT III tidak ada air. Hal ini yang membuat petani merugi.

“Seperti misalnya penanaman padi pada MT III di lahan seluas 2.000 hektare mampu menghasilkan dua ton gabah kering panen (GKP). Sedangkan saat MT I dan II tak lebih dari satu ton GKP,jadi hasil panen tidak maksimal karena kerusakan DAS Pusur”jelasnya

Sementara itu, Pelaksana Program Rehabilitasi Saluran Irigasi Untuk Menunjang Keberlanjutan Pasokan Air Irigasi Sub DAS Pusur, Heru Hendrayana membenarkan perihal kerusakan DAS Pusur tersebut. Menurutnya kerusakan DAS Pusur sudah mencapai 70 persen sehingga perlu diadakan langkah rehabilitasi.

“ Aliran irigasi DAS Pusur sudah  70 persen mengalami kerusakan. Kerusakan irigasi dipengaruhi beberapa faktor, yakni karena sudah tua, kurang perawatan yang mengakibatkan menumpuknya sedimentasi,”ujarnya, Rabu (04/02).

Heru menjelaskan, kerusakan irigasi sebenarnya bisa diantisipasi sejak dini. Untuk itu perlu adanya kesadaran masyarakat terutama pengguna air yang didukung peran pemerintah.

“Selama ini perawatan tidak ada dan pembangunan tidak signifikan.Sedangkan perilaku masyarakat terutama pemakai air hanya memanfaatkan airnya tanpa ikut merawat. Sehingga memicu munculnya sedimen dan sampah. Ini yang menjadikan irigasi tersendat. Ketebalan sedimen bisa satu meter,”urainya.

Selain itu, lanjut Heru, kesadaran masyarakat pengguna air untuk berbagi air sangat rendah sehingga memicu munculnya kebocoran irigasi. Hal ini tentu yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat hilir, terutama petani.

“Irigasi itu milik orang banyak. Selama ini juga sudah diatur penggunaannya. Tapi selama ini juga banyak masyarakat yang kurang peduli akan hal itu. Untuk itu perlu kesadaran bersama,”pungkasnya.

Dani Prima