JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Jasa Marga Jajaki Peluang Akuisisi Proyek Tol Solo-Kertosono

Jasa Marga Jajaki Peluang Akuisisi Proyek Tol Solo-Kertosono

219
BAGIKAN
PEMBEBASAN LAHAN-Salah satu warga melintasi proyek jalur Tol Solo-Kertosono, Kamis (4/7). Dari 71 Sertifikat Hak Milik (SHM)  pengajuan pembebasan tanah, Pemkot Solo membatalkan sekitar 14 SHM dikarenakan tanah tersebut sama sekali tidak terkena pembangunan proyek jalur Provinsi tersebut. Joglosemar/Yuhan Perdana
PEMBEBASAN LAHAN-Salah satu warga melintasi proyek jalur Tol Solo-Kertosono, Kamis (4/7). Dari 71 Sertifikat Hak Milik (SHM) pengajuan pembebasan tanah, Pemkot Solo membatalkan sekitar 14 SHM dikarenakan tanah tersebut sama sekali tidak terkena pembangunan proyek jalur Provinsi tersebut.
Joglosemar/Yuhan Perdana

JAKARTA– PT Jasa Marga (Persero) Tbk menjajaki kemungkinan akuisisi proyek jalan Tol Solo-Kertosono sepanjang 176,7 kilometer (km) untuk ekspansi perseroan, sekaligus mempercepat terealisasinya Tol Trans Jawa pada 2017.

“Kami baru akan bertemu PT Thiess Contractors Indonesia (TCI) selaku BUJT (Badan Usaha Jalan Tol) dan pemegang konsesi ruas itu pekan depan,” kata Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Adityawarman, di sela-sela Penyerahan 5.000 pohon buah dan 1.000 alat biopori kepada masyarakat Jakarta dalam acara Biopori Save Earth, di Rusun Komarudin, Jakarta Timur, Minggu (1/2/2015).

Menurut Adityawarman, pihaknya berharap masuk di BUJT tersebut dengan kepemilikan saham mayoritas dan sisanya adalah pihak lain, termasuk PT TCI.

“Prinsip kami setiap ruas yang dioperasikan oleh Jasa Marga adalah mayoritas,” katanya.

Dia juga berharap proses akuisisi dalam waktu cepat, sehingga proses penyelesaian proyek tol tersebut sesuai keinginan pemerintah yakni seluruh Tol Trans Jawa selesai pada 2017.

“Karena itu, pada tahap awal 3-4 bulan ke depan, kami akan lakukan uji tuntas dulu, setelah itu baru ke penawaran dan seterusnya. Ini murni B to B,” katanya.

Adityawarman menyebutkan, ruas tersebut kini pembebasan lahannya sudah mencapai 80 persen, tetapi proses konstruksinya belum menunjukkan kemajuan berarti.

“Dalam rapat dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla beberapa waktu lalu, sejumlah ruas Tol Trans Jawa yang mendapatkan perhatian antara lain, Solo-Kertosono, Pemalang-Batang, Batang-Semarang. Kedua ruas terakhir, baru empat persen lahannya,” katanya

Hanya saja, orang nomor satu di Jasa Marga itu belum bersedia merinci anggaran yang disiapkan perseroan untuk melakukan akuisisi tersebut.

Jalan tol Solo-Kertosono terbagi dalam dua ruas, yakni Solo-Ngawi sepanjang 90,1 km yang dioperasikan PTSolo Ngawi Jaya (SNJ) dan Ngawi Kertosono sepanjang 86,6 km yang konsesinya dipegang PT Ngawi Kertosono Jaya. Kedua BUJT ini adalah milik PT TCI.

Dari dua ruas tol tersebut, pemerintah mendapatkan porsi untuk membangun 40 km, dengan perincian 15 km di Solo-Ngawi dan 25 km di Ngawi-Kertosono dan sisanya menjadi tanggung jawab BUJT.

Pemerintah pada akhir 2014 menyebut, pinjaman dana dari Tiongkok senilai 360 juta dolar AS untuk kelanjutan pembangunan proyek jalan tol Solo-Kertosono sudah disetujui.

Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Djoko Murjanto, mengatakan bahwa tahap prakualifikasi untuk konstruksi proyek jalan tol porsi pemerintah ini sudah dilakukan dan diharapkan pada awal 2015 konstruksi sudah bisa dilakukan.

Djoko mengatakan, pembangunan fisik untuk 15 km sudah berlangsung dan telah mencapai 90 persen. Sementara, dana pinjaman Tiongkok untuk membangun 25 km di ruas Ngawi-Kertosono.

Solo-Kertosono merupakan bagian dari jalan tol Trans Jawa yang menghubungkan Banten-Surabaya. Sejauh ini PT SNJ telah mulai membangun ruas tol Solo-Ngawi sejak September tahun lalu dan hingga kini masih berlangsung, sedangkan untuk Ngawi-Kertosono masih dalam tahap pembebasan lahan.

Proyek jalan tol Solo-Kertosono merupakan proyek infrastruktur dengan skema Public Private Partnership (PPP) atau Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS).

Pembangunan 40 km lewat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) merupakan upaya agar membuat proyek ini layak secara finansial, karena tingkat pengembalian investor atau Financial Internal Rate Return (FIRR) proyek ini hanya 14 persen, padahal proyek jalan tol dianggap layak jika FIRR diatas 15 persen.

Antara|Edy Sujatmiko