JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Jelang Imlek, Permintaan Buah Naga di Sragen Melonjak

Jelang Imlek, Permintaan Buah Naga di Sragen Melonjak

672
BAGIKAN
Buah Naga
Buah Naga

SRAGEN– Menjelang perayaan Tahun Baru Cina alias Imlek yang jatuh pada 19 Februari besok, petani buah naga di Kabupaten Sragen kewalahan memenuhi tingginya permintaan yang meroket hingga dua kali lipat. Terbatasnya produksi dan tidak adanya penambahan jumlah petani, membuat hampir 75 % permintaan akan buah naga setiap Imlek terpaksa tak bisa terpenuhi.
Salah satu pengusaha buah naga terkenal asal Prampalan, Masaran, Warjimin mengungkapkan seperti tahun-tahun sebelumnya, order buah naga menjelang Imlek memang meningkat hampir dua kali lipat. Menjelang Imlek seperti ini, permintaan buah naga bisa mencapai 10 ton per pekan dari biasanya hanya 5 ton.  Permintaan itu datang dari wilayah Solo, Semarang, Yogya dan beberapa kota besar lainnya.
Tingginya permintaan itu bahkan sampai membuat semuanya tak bisa dipenuhi. Pasalnya kapasitas produksi dari lahan seluas 3 hektare miliknya hanya mampu menghasilkan 2,5 ton per pekan. Sementara, jumlah petani yang membudidayakan buah naga di Sragen cenderung stagnan serta tidak ada penambahan jumlah areal maupun tanaman.
“Kalau dituruti permintaan seminggu itu sampai 10 ton. Tapi apa daya, kapasitas produksi kita hanya 2,5 ton. Sementara, lahan budidaya plasma kita di petani dari dulu hanya 4 hektare dan hasilnya sebagian dijual sendiri. Jadi hampir 75 % permintaan tidak bisa kita penuhi,” paparnya kepada Joglosemar, Selasa (17/2).
Mantan Kabid Hortikultura Distan yang kini menjabat sebagai Sekretaris Dishutbun Sragen itu menuturkan meski order meningkat, harga jual cenderung tak naik. Seperti saat ini, harga buah naga red super paling besar masih stabil dijualnya Rp 12.000/kilogram, untuk ukuran sedang Rp 10.000/kilogram dan ukuran kecil Rp 8.000/kilogram.
“Kalau omzet jelang Imlek seperti ini, satu minggu bisa Rp 20-25 juta,” imbuhnya.
Tak hanya menjelang momen Imlek, menurutnya permintaan buah naga dalam situasi normal sebenarnya juga sangat tinggi dan relatif stabil. Akan tetapi, keterbatasan produksi memang menjadi kendala yang sampai saat ini sebenarnya mendesak butuh solusi.
Karenanya, ia berharap pihak terkait segera memikirkan perluasan budidaya tanaman buah naga yang sejauh ini dipandang masih prospektif untuk mengangkat perekonomian petani. Pihaknya juga siap menampung investor dan membina petani yang ingin bekerjasama mengembangkan buah naga baik di Sragen maupun di areal luar Sragen.
Wardoyo