JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Jembatan Gelagar Ambles, Akses Desa Winong Lumpuh

Jembatan Gelagar Ambles, Akses Desa Winong Lumpuh

508
BAGIKAN
JEMBATAN PUTUS-Jembatan Jerukan Kecamatan Juwangi putus total dan mengakibatkan jalur bus Juwangi-Solo serta lalu lintas lainnya terputus total, Sabtu (5/4). Joglosemar|Ario Bhawono
JEMBATAN PUTUS-Ilustrasi

SRAGEN– Jembatan Gelagar yang menghubungkan Desa Slogo, Tanon dan Karangwaru, Plupuh ambles dan terputus karena diterjang arus sungai akibat hujan deras yang mengguyur wilayah setempat, Sabtu (31/1). Akibat kejadian itu, puluhan KK di Dukuh Winong, Desa Karangwaru, Kecamatan Plupuh terancam terisolasi karena selama ini hanya mengandalkan jembatan itu sebagai akses utama mereka ke luar desa.
Ironisnya, jembatan itu baru selesai dibangun akhir Desember 2014 lalu dengan dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) ditambah swadaya masyarakat yang total mencapai Rp 200 juta. Selain kecewa, warga juga menduga amblesnya jembatan itu lebih karena buruknya konstruksi akibat ketidakberesan pengerjaan proyek oleh Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Desa yang diketuai salah satu bayan setempat.
Paimin Raharjo (50) warga Dukuh Winong mengatakan ambrolnya jembatan itu terjadi Sabtu (31/1) sore bersamaan dengan hujan deras yang mengguyur. Bagian talud dan sayap di sisi utara jembatan sudah putus serta ambles hampir satu meter sehingga jembatan sudah tidak bisa dilewati lagi.
“Padahal, warga kalau mau keluar dan anak-anak kalau mau sekolah lewatnya sini. Lalu warga dari Slogo kalau mau ke Plupuh juga lewat sini,” paparnya kemarin.
Pengawas proyek sekaligus tokoh Dukuh Winong, Haji Pujo mengaku sangat kecewa karena untuk jembatan itu warga sudah berjuang mati-matian mengumpulkan swadaya Rp 25 juta dan menyumbangkan tenaga untuk gotong royong selama hampir dua bulan lebih. Selain faktor tanah yang labil, warga menilai amblesnya jembatan itu lebih karena konstruksi dasar yang tidak memadai. Sebab bagian fondasi sayap hanya dibur tanpa memakai cakar ayam serta tidak ada besi pengait antara sayap dengan badan jembatan.
“Ada sekitar 80 KK di dukuh kami yang sekarang bingung mau lewat mana. Dari awal ketua TPK setiap kali diberi masukan agar pakai cakar ayam, alasannya dananya tidak cukup dan sudah ada plotnya. Kalau sudah begini warga juga yang dirugikan,” jelasnya.
Kades Karangwaru, Ngadimin mengatakan sebenarnya sejak awal pihaknya sudah mengingatkan agar TPK mengerjakan konstruksi dasar sekuat mungkin. Namun imbauan itu juga seolah diabaikan dan pihaknya tidak bisa mengintervensi karena pengerjaannya sudah ditangani secara penuh oleh TPK. Ia mengaku akan segera melaporkan musibah itu ke kecamatan hingga ke dinas terkait untuk penanganan selanjutnya.
Wakil Ketua DPRD Sragen, Hariyanto yang turut meninjau lokasi Minggu (1/2/2015) berharap pihak terkait dari pengelola PNPM kecamatan maupun kabupaten segera memanggil TPK pelaksana untuk dimintai pertanggungjawaban atas ambrolnya jembatan yang terindikasi tidak beres pengerjaannya itu. Dinas terkait juga diharapkan segera berkoordinasi untuk mengupayakan perbaikan agar derita warga yang terisolasi tidak semakin lama.
Wardoyo