JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Jumlah Pasien Demam Berdarah di Sragen Melonjak

Jumlah Pasien Demam Berdarah di Sragen Melonjak

361
BAGIKAN
ilustrasi
ilustrasi

SRAGEN– Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen mengamini pernyataan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bahwa Tahun 2015 adalah tahun siklus tahunan wabah demam berdarah (DB). Selain ditandai banyaknya kasus DB saat ini, hal itu juga tercermin dari tingginya jumlah korban meninggal akibat DB yang dalam kurun 40 hari antara Januari-awal Februari 2015 ini sudah mencapai tiga orang.
“Kelihatannya memang demikian (siklus tahunan). Tapi siklus tahunan itu berlaku secara nasional. Untuk Sragen, jika dibanding tahun lalu, jumlah kasus DB di Sragen memang ada peningkatan 10 persen. Tahun lalu kematiannya selama setahun 12 orang, tahun ini dari Januari sampai awal februari ini sudah tiga yang meninggal,” papar Kepala DKK Sragen Farid Anshori melalui Kabid P2PL, Retno Dwi Kawurjan, Senin (9/2/2015).
Ia menyampaikan kenaikan kasus DB itu sudah terlihat antara pekan pertama ke pekan kedua bulan Januari 2015 yang naik 10 %. Tren it uterus meningkat di pekan ketiga hingga keempat. Meski begitu, sejauh ini wabah DB di Sragen belum masuk kategori kejadian luar biasa (KLB).
Terkait kasus DB di Dukuh Bulurejo, Pendem, Sumberlawang yang merenggut nyawa Sutriawan (11) Sabtu (7/2) malam, pihaknya sudah menerjunkan tim untuk melakukan penyelidikan epidemologis (PE) ke lokasi indeks kasus. Tim juga langsung menindaklanjuti dengan melakukan fogging (pengasapan) ke radius 200 meter sesuai dengan asumsi terbangnya nyamuk yang terkena virus.
“Sekarang ini potensi DB memang lebih berbahaya karena daya jelajah terbang nyamuk aides aigepty itu juga makin jauh. Kalau dulu daya terbangnya hanya 100 meter, sekarang bisa sampai 200 meter. Makanya fogging dilakukan di semua rumah di radius 200 meter dari lokasi kejadian,” jelasnya.
Kabid Promosi Kesehatan (Promkes) DKK, Fanni Fandani menegaskan DKK sebenarnya sudah berupaya responsif untuk menindaklanjuti setiap laporan kasus DB dari warga dengan melakukan PE dan cek lapangan. Namun, ia juga berharap masyarakat mulai merubah pola pikir dengan mengaktifkan bersih-bersih lingkungan dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara serentak daripada hanya mengandalkan fogging yang sebenarnya justru banyak berdampak negatif bagi kesehatan.
“Bahwa fogging itu juga tidak baik untuk kesehatan karena asapnya mengandung racun yang berdampak bagi ibu hamil, balita dan penderita asma,” imbuh Sekdin DKK, Hargiyanto.
Di sisi lain, peningkatan kasus DB juga terlihat di bangsal Anggrek RSUD dr Soehadi Prijonagoro. Pantauan Joglosemar, pada Selasa (9/2) kemarin sebanyak 17 balita yang dirawat di ruang tersebut mayoritas dinyatakan terkena DB.
Wardoyo