JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Karanganyar Seriusi Museum Purba Klaster Dayu

Karanganyar Seriusi Museum Purba Klaster Dayu

1174
BAGIKAN
Museum Dayu
Museum Dayu

KARANGANYAR – Kabupaten Karanganyar seolah tak pernah kehabisan stok objek wisata. Mereka yang gemar pelesir tentunya kenal betul kawasan wisata Tawangmangu yang lekat dengan Grojogan Sewu, atau Agrowisarta Sondokoro di Tasikmadu. Kini, icon baru objek wisata Karanganyar, Museum Purba Klaster Dayu, yang berada di Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo, siap menyita perhatian wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Bersama Klaster lain di Sragen, yakni Klaster Krikilan, Ngebung dan Bukuran, Museum Purba Klaster Dayu menjadi satu sinergi dengan Museum Sangiran. Museum yang diresmikan sejak Oktober tahun lalu itu menawarkan sensasi wisata penuh nuansa edukasi sejarah. Ada banyak kekayaan memori kehidupan sejak jutaan tahun silam, serta kebudayaan yang terpendam dalam lapisan tanah purba.

Di atas lahan seluas kurang lebih 1 hektar, pengunjung akan disuguhi dengan sejumlah wahana display macam audiorama, ruang pamer fosil hingga 3 anjungan yang menunjukkan perbedaan usia lapisan tanah purba. Masing-masing, Anjungan Notopuro dari 250.000-100.000 tahun yang lalu, Anjungan kabuh dari 730.000-250.000 tahun lalu dan Anjungan Grenzbank dari 900.000 yang lalu. Dari situ, pengunjung akan mendapat gambaran pola kehidupan baik manusia, flora maupun fauna dari zaman purba.

“Museum Purba Klaster Dayu induknya berada di Sangiran, dari semua klaster ada kesinambungan. Seperti kita tahu, fosil purba umumnya banyak ditemukan di Afrika dan Indonesia. Sementara, di Indonesia 70 persen berada di Dayu. Dengan demikian, dunia sudah mengenal keberadaan Dayu, ini bisa menjadi kekuatan kita,” ujar Kepala Bidang Objek dan Sarana Wisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Karanganyar, Surono, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (2/2).

Perjalanan berdirinya Museum Purba Klaster Dayu cukup panjang. Kawasan Dayu yang sejak dahulu identik dengan segala sesuatu berbau purba, sempat memiliki museum yang menyimpan benda purbakala. Hanya, akibat terkendala berbagai hal, akhirnya keberadaannya terbengkalai. Benda-benda prasejarah itu akhirnya dititipkan ke Sangiran.

“Setelah ada perkembangan, perlahan dijajaki kembali adanya situs di Dayu tersebut. Oktober 2014 lalu, akhirnya diresmikan Wakil Presiden saat itu, Boediono. Kini sembari berjalan kita berupaya untuk memaksimalkan potensi yang ada di Dayu untuk memperkuat keberadaan situs,” kata Surono.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar sedari awal menginginkan situs Dayu tersebut menjadi icon baru pariwisata di Bumi Intanpari. Surono bersama dinas terkait pun melakukan segala upaya untuk mewujudkan hal itu, salah satunya mematangkan konsep indoor dan outdoor.

“Kita punya konsep indoor dan outdoor, dengan memetakan temuan di luar museum untuk kita buatkan prasasti. Sehingga pengunjung tak hanya melihat di dalam rungan. Ini akan memberikan gambaran nuansa yang lebih untuk pengunjung,” jelasnya.

Di luar keinginan untuk menduniakan Karanganyar melalui Museum Purba Klaster Dayu itu, imbuh Surono, ada pula harapan untuk mensejahterakan kehidupan masyarakat sekitar.

“Kita ingin perekonomian masyarakat sekitar ikut terangkat. Tentunya peningkatan itu akan berjalan seiring dengan berjalannya waktu, kita akan upayakan hal itu,,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Desa Dayu, Sumarno berharap keberadaan Museum Purba Klaster Dayu menjadi salah satu pendongkrak perekonomian masyarakat sekitar.

“Harapan warga disini museum tersebut bisa terus eksis dan berkembang. Dengan demikian, perekonomian warga akan ikut terdongkrak. Tentunya warga juga menginginkan ada pendampingan yang berkelanjutan pula dari Pemkab,” ucapnya. Putradi Pamungkas