JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Kediaman Polisi Sragen yang Menipu Hingga Rp 2 Milar Sudah Lama Kosong

Kediaman Polisi Sragen yang Menipu Hingga Rp 2 Milar Sudah Lama Kosong

558
BAGIKAN
ilustrasi
ilustrasi

KARANGANYAR – Pasca penangkapan dan penahanan JS (44) salah seorang anggota Kepolisian Sragen yang diduga menipu korbannya hingga Rp 2 miliar, keberadaan informasi tersebut rupanya tak diketahui tetangga di sekitar rumah tersangka di Dukuh Waru RT 3 RW 4 Desa Pulosari, Kecamatan Kebakkramat. Warga tak tahu menahu perihal dugaan keterlibatan JS dalam sindikat penipuan berkedok pencaloan CPNS.

Mujirah (62), salah seorang warga setempat menuturkan, dirinya tak mendengar ada kasak kusuk soal penahanan JS beredar di lingkungan sekitarnya. Dirinya hanya mendapati rumah JS terlihat lebih sepi dalam beberapa waktu belakangan.

“Wah, saya malah tidak tahu ya, memangnya kasus apa? Tak ada cerita yang saya dengar di kampung. Yang saya tahu, dalam beberapa hari ini rumah sepi, mobilnya pun tidak ada,” tutur Mujirah kepada Joglosemar, Rabu (25/2/2015).

Dirinya mengaku sudah sekitar 3 minggu tak melihat keberadaan JS. Dia hanya pernah mendengar perihal keberadaan JS dari salah seorang anaknya yang masih kecil.

“Anaknya yang kecil masih TK itu pernah bilang, katanya bapak ke Semarang. Hanya itu saja,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan ketua RT setempat, Rohmat. Sebagian besar warga memang tak mengetahui perihal penangkapan maupun masalah hukum yang membelit JS. Meski demikian, ia sempat mendengar informasi beredar yang mengatakan kalau JS mengalami persoalan tersebut.

Dirinya bahkan sama sekali tak mendapati adanya tanda-tanda kehadiran pihak berwajib ke rumah JS.

“Hanya mendengar greneng-greneng saja. Sebab memang banyak warga disini yang tak tahu. Masalahnya seperti apa saja, saya pun tidak tahu secara pasti kalau ada penangkapan itu,” ungkapnya.

Rohmat menceritakan, keberadaan JS sebagai warga baru di kampungnya membuat para tetangga jarang bertegur sapa satu sama lain. Aktivitas JS bersama istrinya yang tergolong padat membuatnya jarang bertemu, meskipun hanya terpaut beberapa rumah saja.

“Keduanya jarang keluar. Apalagi mereka terhitung masih baru disini, baru pindah 4 tahun. Lalu, semuanya sibuk di Sragen,” ceritanya.

Dalam kegiatan di kampung pun, JS kerap kali berhalangan hadir. Namun demikian, secara pribadi JS dikenal sebagai sosok yang baik dan cukup bermasyarakat apabila tengah berada di sekeliling warga lain.

“Kalau ketemu biasa saling menyapa, namun jarang sekali. Seminggu pun belum tentu. Dia terlalu sibuk, sampai-sampai untuk kerja bakti saja ia harus membayar orang untuk mengganti biaya ketidakhadiran,” jelasnya.

Berdasarkan pantaun di sekitar rumah JS, nampak lingkungan tersebut terlihat sepi dari hiruk pikuk aktivitas warga. Umumnya, warga sekitar berada di sawah sejak pagi hingga siang hari. Sementara, pintu gerbang di rumah JS yang berlantai dua itu pun terlihat terkunci rapat. Praktis, tak ada tanda-tanda keberadaan orang di dalam rumah tersebut.

Putradi Pamungkas