JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Kisah Penumpang Selamat Bus Engon: Hanya Terdengar Takbir dan Langkahi Gelimpangan Mayat

Kisah Penumpang Selamat Bus Engon: Hanya Terdengar Takbir dan Langkahi Gelimpangan Mayat

299
BAGIKAN
Ilustrasi: dok Soloblitz
Ilustrasi: dok Soloblitz

SEMARANG– Pukul 13.00 WIB di Tol Jatingaleh KM9.300 lingkar Tol Jangli Semarang, kecelakaan maut bus Sang Engon terjadi. Salah satu korban selamat, Istikomah menceritakan perjuangannya selamat dari maut.

Istikomah dan suaminya dari Desa Sukorejo, Bojonegoro mengikuti rombongan pengajian dan berangkat sekitar pukul 16.00 WIB hari Kamis (19/2) dari Desa Dander bersama rombongan dari desa lain. Mereka menghadiri pengajian Habib Lutfi di Pekalongan sejak pukul 06.00 WIB pagi tadi.

Rombongan kemudian pulang dari Pekalongan sekitar pukul 10.00 WIB. Namun bus bernopol B 7222 KGA itu kehilangan kendali di tikungan tajam dan menghantam pembatas beton hingga terguling dan meluncur menabrak dinding tebing.

“Saya duduk di kursi sebelah kiri nomor 3 dari pintu belakang. Kejadiannya cepat sekali,” kata Istikomah di ruang Flamboyan RS Bhayangkara Semarang, Jumat (20/2/2015).

Suara-suara takbir dari penumpang selamat bergema di lorong sempit bus yang hancur lebur. Saat itu Istikomah berusaha keluar dari bus namun korban-korban lain bergelimpangan di sekitarnya.

“Saya merangkak, saya pegangan pecahan kaca sampai tidak terasa,” ujarnya.

Suaminya kemudian membantu mengangkat Istikomah keluar dari bus lewat lubang pecahan kaca. Setelah berhasil dievakuasi, ternyata perutnya tertusuk pecahan kaca. Ia pun segera dilarikan ke RS Bhayangkara.

“Mbledus, terus saya panik, tidak terasa (tertusuk pecahan kaca),” tandasnya.

Sementara itu korban selamat lainnya, Biutomo (30) warga desa Stren RT 12 RW 5, Bojonegoro mengatakan saat kejadian ia tidur di kursi belakang. Ketika bus terguling, ia terbangun dan mendapati penumpang lain histeris.

“Saya duduk di bangku kanan nomor tiga dari belakang. Saya masih tidur. Saat terguling saya bangun. Semua langsung takbir,” kata Biutomo yang mengalami luka lecet.

Saat ini Biutomo masih mencari kakak iparnya, Sarif dan Mertua, Warmin karena korban-korban luka dirawat di beberpa rumah sakit.

Setidaknya dari data kepolisian ada 16 penumpang yang tewas dan 52 korban luka dirawat di RS Bhayangkara dan RSUP dr Kariadi Semarang. Sopir bus M. Husen juga masih dirawat di RS Bhayangkara dan dalam pengawasan polisi.

detikNews|Angling Adhitya Purbaya