JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Kodim Sragen Minta Petani Lapor ke Babinsa Jika Kesulitan Pupuk

Kodim Sragen Minta Petani Lapor ke Babinsa Jika Kesulitan Pupuk

470
BAGIKAN

 

Ilustrasi | Joglosemar|Ario Bhawono
Ilustrasi | Joglosemar|Ario Bhawono

SRAGEN- Petani di Kabupaten Sragen diminta tidak segan untuk berkoordinasi dengan personel TNI-AD yang bertugas di setiap desa atau Bintara Pembina Desa (Babinsa), jika menghadapai masalah terkait operasional pertanian di lapangan. Tidak hanya masalah teknis, petani juga diminta berani melaporkan jika ada persoalan pada distribusi pupuk bersubsidi seperti pengecer nakal atau pupuk tidak sampai ke tangan petani.

Penegasan itu disampaikan Komandan Kodim 0725/Sragen, Letkol Inf Edi Saputra di sela-sela coffee morning dengan kalangan jurnalis Sragen di Makodim, Jumat (6/2/2015).

“Ada 220 Babinsa akan kita tempelkan ke kelompok tani di desa-desa. Tugasnya mendampingi dan membantu penyuluh jika ada persoalan yang dihadapi petani di lapangan. Jadi kalau ada masalah apa-apa, petani jangan takut lapor ke Babinsa,” paparnya.

Menurut Dandim, mengacu Kementerian Pertanian (Mentan), saat ini ada tiga masalah yang mengancam peningkatan produksi pertanian atau pangan yakni banyaknya irigasi yang rusak, kurangnya sapras pertanian dan masalah terakhir adalah ketercukupan pupuk sampai ke petani.

Untuk dua masalah pertama pihaknya menyerahkan kepada dinas dan Pemkab karena terkait dengan alokasi anggaran. Namun untuk problem ketiga soal distribusi pupuk, pihaknya berharap peran Babinsa di semua desa bisa lebih maksimal dalam membantu mengawasi distribusi pupuk agar tidak sampai dipermainkan distributor dan benar-benar sampai ke petani.

“Makanya kalau ada petani yang sampai tidak dapat pupuk karena tidak disalurkan oleh pengecer atau kelompok tani, silakan lapor  ke Babinsa. Biar nanti langsung diteruskan ke dinas pertanian. Karena peringatan dari Mentan sudah tegas, kalau ada distributor atau pengecer pupuk nakal ancamannya akan disikat,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Bappeluh Sragen, Djazairi mengatakan jumlah penyuluh pertanian di Sragen sekitar 187 orang belum termasuk penyuluh kehutanan. Ia menyambut baik keterlibatan Babinsa itu namun agar tidak tumpang tindih dengan penyuluh, nantinya akan dilakukan pembekalan, pengkomunikasian dan pelatihan terhadap Babinsa terlebih dahulu.

“Jadi mereka nanti akan mendampingi penyuluh dalam melakukan pengawalan tekonologi pertanian di lapangan. Misalnya pemupukan yang benar. Makanya perlu pelatihan dulu dan komunikasi agar tidak tumpang tindih,” jelasnya.

Wardoyo