JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Kondisi Pasar Klodran Kian Mengenaskan

Kondisi Pasar Klodran Kian Mengenaskan

315
BAGIKAN
JADI HUNIAN - Kamidah (55) tampak tengah menutup kios yang ditempatinya di Pasar Klodran. Kios di pasar yang mangkrak tersebut kini sebagian digunakan hunian oleh pedagang. Foto: Putradi Pamungkas
JADI HUNIAN – Kamidah (55) tampak tengah menutup kios yang ditempatinya di Pasar Klodran. Kios di pasar yang mangkrak tersebut kini sebagian digunakan hunian oleh pedagang. Foto: Putradi Pamungkas

KARANGANYAR – Kondisi Pasar Klodran di Desa Klodran, Kecamatan Colomadu kian memprihatinkan. Puluhan kios dan los pasar yang didirikan sejak 2006 itu pun tampak sepi tak dihuni pedagang dan semakin kumuh.

Sebagian kios yang ditempati, umumnya telah mengalami alih fungsi. Salah satunya, untuk pemukiman para pedagang baik dari sekitar Colomadu maupun daerah lain. Praktis, los pasar yang umumnya dijejali aneka dagangan, kini berubah menjadi tempat menjemur pakaian maupun aktivitas rumah tangga lainnya.

“Sudah dua tahun lamanya saya bersama suami tinggal disini. Saya memilih tinggal disini ketimbang ikut anak saya di Kalimantan. Lagipula kami sudah tua,” tutur Kamidah (55), saat ditemui wartawan di depan kios blok B10 yang ditempatinya, Selasa (3/2/2015).

Di dalam kios yang berisikan satu ranjang, kipas angin dan televisi itu, nenek asal Jember tersebut menghabiskan waktu sekaligus melepas lelah. Biaya sewa per satu tahun yang dikenakan, sebesar Rp 1 juta.

“Seharian beraktivitas di rumah. Sebab saya sudah tak mampu berdagang lagi karena sakit,” ujarnya.

Meski tumpukan sampah kerap menggunung di beberapa sudut pasar, para penghuni kios dan los tampak nyaman-nyaman saja. Mereka seolah telah terbiasa dengan kondisi semacam itu.

“Sejak beberapa bulan berada di sini, kondisi pasar memang kotor terus. Kadang saya sendiri yang membersihkan sampah,” ungkap Mamik, salah seorang penghuni kios asal Solo.

Sementara itu, Kepala Desa Klodran, Warsito mengakui selama ini keberadaan Pasar Klodran belum optimal. Dari sekitar 100 kios yang ada, hanya segelintir penghuni asli pasar yang tersisa. Sedangkan 90 persen diantaranya sudah mengalami alih fungsi.

“Dulu sangat sepi, baru agak ramai ketika PKL masuk dan menempati sejumlah kios. Kondisi sekarang yang kian semrawut membuat pembeli pun malas untuk masuk pasar. Maka harus dihidupkan kembali,” ujarnya.

Namun demikian, upaya untuk menghidupkan kembali aktivitas Pasar Klodar terbentur kendala. Pasalnya, kontrak pengelolaan pasar masih berada di pihak ketiga hingga 2020 mendatang. Artinya, perombakan baru bias dilakukan 5 tahun ke depan.

“Belum lagi harus ada sosialiasi, termasuk mencari pemilik asli kios. Kalau mau menata, harus ada sosialisasi dan pengumpulan pemilik asli. Kalau sudah dekat menjelang akhir kontrak, baru konsolidasi,” jelasnya.

Putradi Pamungkas