JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Kuota Pupuk untuk Karanganyar Ditetapkan 21 Ribu Ton

Kuota Pupuk untuk Karanganyar Ditetapkan 21 Ribu Ton

252
BAGIKAN
ilustrasi
ilustrasi

KARANGANYAR – Tahun 2015, kuota pupuk urea bersubsidi di Kabupaten Karanganyar ditetapkan sebesar 21 ribu ton. Praktis, jumlah tersebut tak berubah dibanding tahun sebelumnya, dimana kuota awal sebesar 18 ribu ton mendapat tambahan sebesar 3 ribu ton.

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Supramnaryo mengemukakan, meski telah ditetapkan sebanyak 21 ton, masih ada peluang jumlah tersebut bertambah.

“Tahun ini, kuota untuk Karanganyar ditetapkan 21 ribu ton. Namun, kalau kurang bisa mengajukan tambahan,” ungkap Supramnaryo,Minggu (1/2/2015)

Supramnaryo mengatakan, penyaluran pupuk tersebut harus sesuai sebagaimana dengan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Guna memastikan kuota mencukupi kebutuhan, ia meminta jajarannya untuk mengawal distribusi kepada petani.

“Penyaluran harus sesuai dengan RDKK untuk mengantisipasi salah sasaran. Gudang pengecer pun saya minta jangan sampai nantinya kosong, sebab ada pengaturan agar tidak sampai terjadi kelangkaan pupuk,” tandasnya.

Selama ini, kerap terjadi adanya penyaluran yang tak sesuai dengan RDKK. Sebagai contoh, petani di luar kelompok yang sekedar menumpang RDKK di luar kelompoknya, hanya untuk dapat membeli pupuk bersubsidi. Supramnaryo minta agar para jajaran termasuk Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) hingga masyarakat mengawasi penyaluran tersebut.

“Bila ada informasi adanya penyaluran yang tak sesuai, kami minta agar segera disampaikan. Dengan begitu akan segera kami tindak lanjuti,” ujarnya.

Di sisi lain, Supramnaryo yakin kuota yang ditetapkan akan mampu mencukupi kebutuhan selama penggunaannya sesuai dengan ketentuan. Ketentuan tersebut, berupa dosis sebesar 250 kilogram per hectare berdasarkan penetapn pemerintah. Permasalah selama ini kerap dipicu akibat pengunaan pupuk melebihi dosis yang berimbas pada kekurangan kuota.

Sementara, petani yang menggunakan pupuk organik, diharapkan untuk mulai mengurangi konsumsi pupuk kimia.

“Dengan begitu saya rasa kuota yang disediakan bakal mencukupi. Kalau memang kurang, bisa mengajukan tambahan ke provinsi. Tinggal bagaimana evaluasinya, bisa diambilkan dari kuora kabupaten lain yang tak terserap,” jelasnya.

Putradi Pamungkas