JOGLOSEMAR.CO Berita Utama   Lebih Dari Dua Tahun Warga Joho Tak Pusingkan Elpiji

  Lebih Dari Dua Tahun Warga Joho Tak Pusingkan Elpiji

234
BAGIKAN
Seorang warga Joho menunjukkan instalasi biogas di rumahnya | Dani Prima
Seorang warga Joho menunjukkan instalasi biogas di rumahnya | Dani Prima

KLATEN – Sejak tahun 2013 atau sekitar dua tahun lalu warga Dukuh Padanjero, Desa Joho, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten sudah mengunakan biogas untuk memasak. Walaupun pada awalnya harus mengeluarkan biaya mahal untuk pembuatan intalasi biogas, warga Desa Joho kini bisa merasakan manfaatnya. Apalagi ditengah naiknya harga gas elpiji saat ini, mereka justru tidak ambil pusing.

Manfaat tersebut dirasakan satu diantaranya, yakni Keluarga Paidi (44), Setelah hampir dua tahun menggunakannya, ia masih bisa merasakan hasil masakan dari energi yang dihasilkan dari kotoran sapi tersebut

“Sangat membantu kami dalam kegiatan sehari-hari. Untuk memasak nasi dan air setiap pagi,” tuturnya, Selasa (3/2/2015) ketika Joglosemar menemuinya di rumah.

Meskipun masih menggunakan gas elpiji kemasan 3 kilogram dan memiliki tabung 12 kilo. Tapi baginya, menggunakan energi biogas lebih hemat. Karena setiap hari ia tinggal mengisi septic tank menggunakan kotoran sapi dicampur dengan air. Untuk satu kali pengisian,  energi yang dihasilkan bisa dipakai berhari-hari. Bahkan jika dalam keadaan mendesak, api bisa dihidupkan dalam tempo 12 jam nonstop.

“Kalau dibandingkan dengan penggunaan gas jauh lebih hemat biogas. Kalau pakai elpiji, tempo penggunaannya cuma tiga hari, paling lama seminggu. Kalau biogas, bisa tahan berhari-hari. Asalkan pengisiannya yang teratur,” tuturnya.

Ia juga mengungkapkan,  untuk pembangunan instalasi biogas, terhitung cukup mahal. Keluarganya harus merogoh kocek hingga lima juta rupiah. Tiga juta untuk biaya pembuatan sarana instalasi, sedangkan sisanya guna membeli septic tank, dari sebuah perusahaan swasta. Adapun septic tank yang dimilikinya adalah ukuran 12 kubik.

Menurut Kaur Pembangunan Desa setempat, Hardono, pembangunan fasilitas tersebut diinisiasi oleh perusahaan swasta yang bergerak dibidang energi. Melihat sebagian besar warga Joho memelihara sapi, kemudian menawarkan sebuah kerjasama.

“Di kantor Kecamatan dulu, ada yang menawari program pembuatan biogas. Ketika saya umumkan kepada masyarakat, ternyata mendapat sambutan baik. Empat warga, akhirnya memasang,” jelas Hardono.

Meskipun berhasil, energi alternatif tersebut tidak bisa dimanfaatkan secara merata oleh warga. Hal itu lebih disebabkan karena mahalnya biaya pemasangan diawal.

“Sebenarnya warga disini jelas tertarik dengan energi tersebut. Namun karena biaya pemasangannya mahal mereka urung memasang. Padahal hanya dengan kotoran dari dua buah sapi, mereka bisa menggunakan untuk memasak dan menyalakan lampu. Jelas cukup hemat. Seandainya saja ada yang bersedia membantu warga kami,” harapnya.

Dani Prima