JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Masyarakat Sekitar Museum Dayu Berharap Bisa Lebih Sejahtera

Masyarakat Sekitar Museum Dayu Berharap Bisa Lebih Sejahtera

313
BAGIKAN
Museum Dayu
Museum Dayu

KARANGANYAR –Seiring dengan diresmikannya Museum Purba Klaster Dayu, Oktober 2014 lalu, masyarakat di kawasan Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo, menyambut dengan cukup baik. Di benak mereka, keberadaan museum tersebut akan memberikan secercah baru harapan untuk memperbaiki kondisi perekonomian.

Di Desa Dayu, kurang lebih terdapat 1.300 Kepala Keluarga (KK). Sebagian besar berprofesi sebagai buruh harian lepas hingga petani. Sementara, di kawasan tersebut, selain menyimpan potensi berupa situs purbakala, potensi pertanian tadah hujan menjadi pijakan warga untuk mengais rezeki.

Semenjak ditetapkan sebagai situs sejarah, masyarakat Desa Dayu terbentur regulasi perlindungan situs purbakala yang mengikat. Kendati menjadi lahan pribadi, warga tak bisa begitu saja memanfaatkan lahan mereka dengan bebas. Untuk berinvestasi saja, butuh mekanisme pengajuan izin ke Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.

Kepala Desa Dayu, Sumarno mengungkapkan, keinginan masyarakat hanyalah ingin sejahtera dari sisi ekonomi dengan adanya museum tersebut.

“Keinginan warga hanya ingin perekonomiannya terangkat, itu saja. Sejauh ini memang belum sesuai harapan, sebab ada regulasi yang mengikat. Misalnya, sulit untuk berinvetasi di lahan pribadi,” ungkap Sumarno, kemarin.

Sumarno berharap adanya kompensasi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar sebagai imbal balik dari regulasi tersebut. Beruntung, keinginan tersebut diwujudkan Pemkab dengan memberikan pelatihan peningkatan sumber daya manusia warga Dayu. Pelatihan tersebut, kini tengah berjalan.

“Tidak harus berupa uang, namun yang pasti ada kompensasi.Sekarang pelatihan sudah diberikan. Kami berharap ada konsistensi disitu dan Pemkab memberikan pengawalan supaya ada hasil nyata bagi masyarakat,” sebutnya.

Lambat laun, pengunjung di Museum Purba Klaster Dayu pun mengalami pengingkatan. Apabila di hari biasa mampu menarik 50 hingga 100 pengunjung, di hari libur situs tersebut bisa kebanjiran pengunjung hingga 400 orang. Meningkatkan jumlah pengunjung tersebut, imbuh Sumarno, sudah sepantasnya dibarengi dengan peningkatan infrastruktur. Pasalnya, kawasan tersebut hingga saat ini belum memiliki lahan parkir.

“Selalu ada peningkatan pengunjung. Namun kendala ada di lahan parkir, maka kita bekerjasama dengan Pemkab untuk mengupayakan itu. Sejauh ini lahan penduduk masih sulit untuk dibeli. Sebagai alternatif, kita siapakan di lapangan Dayu. Sembari itu, kita akan tetap berkomunikasi dengan warga,” jelasnya.

Terkait kebutuhan infrastruktur tersebut, Kepala Bidang Objek dan Sarana Wisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Karanganyar, Surono mengatakan pihaknya bersama Pemerintah Desa Dayu akan melakukan pemetaan khususnya untuk lahan parkir, serta mengadakan pertemuan. Ia ingin ada komunikasi dengan warga setempat supaya diketahui bagaimana keinginan warga.

“Kita akan sinergikan kebijakan pemerintah dengan keinginan warga. Soal pengelolaan nanti, akan kita integrasikan dengan pihak terkait. Yang pasti MoU akan kita godok dulu,” kata Surono.

Selain tengah menyelesaikan persoalan lahan parkir, Surono pun tengah berkonsentrasi untuk mengembangkan konsep situs. Ia berkeinginan ada multi effect soal teknis konsep Museum Purba Klaster Dayu itu.

“Misalnya jalur keluar masuk dibuat memutar, supaya ada multi effect bagi warga sekitar, termasuk pengembangan infrastruktur lain supaya sisi historisnya terus naik. Soal tiket masuk, kalau sudah ada totalitas di berbagai aspek tentu akan kita tetapkan. Sejauh ini masih free,” terangnya.

Sementara itu, sebelumnya Bupati Karanganyar, Juliyatmono mengatakan dirinya bakal pemetaan terhadap seluruh objek wisata di Karanganyar. Seluruh kondisi objek wisata yang ada bakal dipantau sebagai bahan evaluasi sarana prasana, termasuk di Museum Purba Klaster Dayu

“Dengan begitu kita akan tahu apa yang harus dilakukan, termasuk melengkapi fasilitas yang kurang,” jelasnya.

Putradi Pamungkas