JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Mendag: Pakaian Bekas Impor Ancam Industri Kecil

Mendag: Pakaian Bekas Impor Ancam Industri Kecil

273
BAGIKAN
Petugas Disperindag Kota Surakarta melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) di Pasar Klitikan Notoharjo, Semanggi Pasar Kliwon Surakarta, Senin (09/02/2015) terkait penjualan baju bekas impor. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mencegah penularan penyakit melalui baju bekas_Foto_Maksum N F
Petugas Disperindag Kota Solo melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) di Pasar Klitikan Notoharjo, Semanggi Pasar Kliwon, Senin (09/02/2015) terkait penjualan baju bekas impor. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mencegah penularan penyakit melalui baju bekas | Foto: Joglosemar/Maksum N F

JAKARTA – Kementerian Perdagangan menyatakan impor pakaian bekas akan mengancam para pengusaha garmen kecil Tanah Air lantaran tidak akan mampu bersaing secara sehat.

“Pengusaha kecil akan mati, karena mereka tidak mampu bersaing dengan itu (pakaian bekas impor),” kata Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, seusai menghadiri business gathering “Era Kebangkitan Industri Mebel Indonesia” di Surabaya, Kamis (12/2/2015) malam.

Menurut Rachmat, langkah utama untuk menyelamatkan industri dalam negeri dari serbuan pakaian impor bekas ilegal tersebut adalah menghentikan barang-barang tersebut masuk wilayah Indonesia. “Langkah pertama hentikan yang akan masuk, sementara yang sudah ada di pasaran, masyarakat menentukan apakah barang tersebut akan dibeli atau tidak,” uajr Rachmat.

Ia mengharapkan peranan dari pemerintah daerah dan juga Bea Cukai untuk bisa berperan lebih aktif dalam menjaga pasar domestik dari serbuan pakaian bekas impor melalui pelabuhan-pelabuhan tikus di wilayah Indonesia. “Saya harapkan pemerintah daerah dan Bea Cukai lebih berperan aktif dalam menjaga pasar domestik karena jika dibiarkan maka industri kecil kita akan mati,” ujar Rachmat.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Standarisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan, Widodo, menyatakan berdasarkan pengamatan, omzet penjualan pakaian bekas sudah mengalami penurunan sejak ditemukannya bakteri. “Pedagang pakaian bekas omzetnya menurun, dari yang sebelumnya bisa mencapai Rp1 juta per hari, menjadi Rp300-Rp400 ribu per hari. Artinya imbauan kita terhadap para konsumen untuk tidak membeli pakaian bekas itu ada hasilnya,” ujar Widodo.

Beberapa waktu lalu, Kementerian Perdagangan menyatakan setelah dilakukan uji laboratorium dengan parameter mikro biologi terhadap pakaian bekas impor yang diperjualbelikan, terbukti pakaian-pakaian tersebut mengandung bakteri dan jamur.

Vicki Febrianto| Antara