JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Mengaku Berdiskusi, Ternyata Berzina di Hotel

Mengaku Berdiskusi, Ternyata Berzina di Hotel

770
BAGIKAN
ilustrasi
ilustrasi

SRAGEN– Ada-ada saja alasan ketika orang sudah terjepit situasi. Seperti yang disampaikan Sukadi (40) pria asal Sragen yang Selasa (10/2/2015) siang tertangkap basah sedang berduaan dengan teman perempuannya yang berusia 26 tahun di Hotel Sukowati, Sragen.
Saat diamankan oleh petugas, pria yang baru saja cerai dengan istrinya itu mengaku siang itu mengaku hanya sekadar curhat dengan teman wanitanya itu. Kontan saja, jawaban itu sempat membuat personel Sabhara yang melakukan interogasi sedikit terhenyak. Namun, ketika terus didesak, akhirnya pria tersebut berterus terang mengaku jika siang itu dirinya sudah ngebet ingin berkencan dengan teman wanita yang diklaim akan segera dinikahinya.
“Jenengan kami tanya itu bukan untuk diapak-apakne. Bukan untuk digorok juga tapi untuk pendataan dan kami catat agar tidak diulangi lagi. Karena kalian belum resmi dan itu perbuatan zina yang dilarang,” tutur salah satu petugas kepolisian.
Sukardi siang itu tidak sendirian. Ia ditangkap bersama sepasang pria wanita yang kebetulan juga tepergok sedang berbuat mesum di hotel yang sama. Mereka diamankan dalam sebuah operasi penyakit masyarakat (pekat) serta premanisme yang digelar Satuan Sabhara Polres Sragen sekitar pukul 11.00 WIB. Selain menangkap dua pasangan tidak resmi, tim juga mengamankan dua orang pengamen yang beroperasi di bangjo kawasan Ngrampal dan Terminal Pilangsari.
“Istri saya sakit-sakitan. Saya juga kena ginjal, baru 20 hari keluar dari rumah sakit. Saya terpaksa ngamen untuk mencukupi kebutuhan. Semua karena keadaan dan saya tidak pernah terlibat kasus apapun mas. Ngamen ya cuma ngamen,” aku ASmaji (70) pengamen asal Nambangan, Ngawi yang kemarin ditangkap bersama putrinya yang masih berusia 4 tahun.
Kapolres Sragen AKBP Dwi Tunggal Jaladri melalui Kasat Sabhara AKP Hartono mengatakan operasi pekat dan premanisme itu digelar dalam rangkaian cipta kondisi sekaligus menekan tindak kriminalitas yang meresahkan. Selain menyasar tindak asusila, miras dan perjudian, operasi juga diarahkan untuk menertibkan para pengamen, preman dan pengemis yang selama ini dianggap meresahkan masyarakat.
“Mereka yang ditangkap kami data dan beri pengarahan agar tidak mengulangi perbuatannya lagi. Untuk pengamen dan pengemis kami arahkan untuk mencari pekerjaan lain,” jelasnya.
Wardoyo