JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Mengintip Isi Ruangan yang Menjadi Saksi Amarah Pangeran Diponegoro

    Mengintip Isi Ruangan yang Menjadi Saksi Amarah Pangeran Diponegoro

    420
    BAGIKAN
    Jubah Pangeran Diponegoro
    Jubah Pangeran Diponegoro

    MAGELANG– Kantor Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) II Jawa Tengah di Jalan Pangeran Diponegoro No 1, Kota Magelang adalah salah satu saksi bisu penangkapan pahlawan nasional Pangeran Diponegoro yang terkenal dengan sebutan Perang Jawa atau Java Oorlog 1825-1830. Dulu tempat itu adalah kantor Residen Belanda yang membawahi wilayah Kedu dan sekitarnya.

    Di salah satu ruangan tepatnya di sisi selatan adalah tempat Pangeran Diponegoro pada tanggal 28 Maret 1830 melakukan perundingan dengan Jenderal De Kock. Setelah itu, dia ditangkap kemudian dibawa ke Semarang kemudian diasingkan ke Manado hingga meninggal di tempat pembuangan di Makassar.

    Pintu masuk ruangan yang di namakan Kamar Diponegoro dengan kusen dan daun pintu kayu jati setinggi 3 meter. Di kanan pintu tertulis tulisan, “Diponegoro, lahir di Yogyakarta, 11 November 1785, mulai peperangan di Tegalrejo 20 Juli 1825. Kena siasat Belanda, Magelang 28 Maret 1830. Wafat Makasar 8 januari 1855”.

    Di ruangan seluas 6 x 6 meter atau 36 meter persegi itu tersimpan beberapa koleksi peninggalan Diponegoro diantaranya jubah, meja kursi saat perundingan dengan Jenderal De Kock, bale-bale, kitab Ta’rib, lukisan dan poci/teko serta cangkir.

    Empat buah kursi kayu jati dan satu meja adalah tempat duduk saat Pangeran Diponegoro berunding dengan Jenderal De Kock. Pangeran Diponegoro duduk menghadap keluar (barat). Sedangkan De Kock duduk berhadapan dengan sanga pangeran menghadap ke timur. Dua kursi di kanan kiri diduduki oleh dua orang yang bertindak sebagai penerjemah.

    Kursi dengan anyaman rotan yang diduduki Diponegoro di bagian kanan tempat pegangan tangan terdapat bekas cengkraman tangan Pangeran Diponegoro. Ada bekas cengkraman yang membekas seperti goresan di kayu yang menandakan kemarahan Pangeran Diponegoro terhadap tipu muslihat yang dilakukan Belanda. Saat ini kursi tersebut ditutup dengan lemari kaca dan ditutupi kain putih.

    “Ada bekas seperti goresan di bagian bawah kayu tempat pegangan tangan di bagian kanan. Itu menandakan betapa marahnya Pangeran Diponegoro saat ditangkap di sini,” papar Ajeng pemandu museum saat memberikan penjelasan.Benda koleksi lainnya adalah jubah Pangeran Diponegoro yang terbuat dari kain Shantung yang berasal dari Tiongkok. Jubah kain yang sudah berwarna kecokelatan termakan usia disimpan disebuah lemari kaca. Jubah tersebut berasal dari keluarga Mertanegara. Jubah tersebut setinggi 160 cm.

    Benda koleksi lainnya adalah Bale-bale dari kayu dengan alas bambu dibelah merupakan tempat salat saat Diponegoro berada di Daerah Brangkal, Gombong, Kebumen. Bale-bale ini sebelumnya disimpan oleh Kyai Haji Syafei dari Brangkal. Ada juga sebuah kitab Ta’rib yang digunakan Pangeran Diponegoro untuk mengaji.

    Di salah satu lemari kaca lainnya, terdapat 2 buah teko berukuran kecil dan besar beserta 7 buah cangkir putih. Benda-benda ini adalah milik pribadi Pangeran Diponegoro yang dipakai sewaktu beliau masih di berada di daerah Bantul saat berperang.

    Di dinding ruangan museum ini, dihiasi beberapa lukisan perjalanan Pangeran Diponegoro. Salah satunya adalah repro lukisan karya Raden Saleh, yang menceritakan penangkapan Pangeran Diponegoro di depan gedung Karisidenan. Kemudian lukisan Pangeran Diponegoro ketika menunggangi kuda Kyai Gentayu, karya Hendrajasmoko. Ada pula lukisan foto close up Pangeran Diponegoro ketika berusia 35 tahun, yang dilukis oleh seorang Belanda.

    detikNews|Hafidz Imaduddin