JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Mudahkan Penyembuhan, Pasien Klamidia Diminta Jujur

Mudahkan Penyembuhan, Pasien Klamidia Diminta Jujur

263
BAGIKAN
Bakteri Chlamydia trachomatis
Bakteri Chlamydia trachomatis

PENYAKIT menular seksual klamidia bisa menyerang siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Jika gejala penyakit ini muncul, dokter menyarankan agar pasien untuk jujur.

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Rumah Sakit (RS) Islam Kustati Surakarta, Dr Endra Yustin Ellitasari, MSc, SpKK menjelaskan penyakit klamidia disebabkan bakteri Chlamydia trachomatis. Klamidia bisa menyebabkan kemandulan pada laki-laki maupun perempuan.

Lanjut Endra, untuk pemeriksaan yang dilakukan biasanya dengan tanya jawab antara dokter dan pasien. Melalui tanya jawab tersebut, dokter akan mengetahui riwayat pasien. Misal pasien tersebut berhubungan seksual multipartner atau tidak. Lalu bagaimana bentuk keluhan dari pasien dan dengan pemeriksaan fisik.

“Saat ditanya dokter, diharapkan untuk jujur. Misal melakukan hubungan seksual dengan multipartner maka ceritakan atau melakukan seks bebas maka ceritakan. Karena ini digunakan untuk melakukan pemeriksaan. Beda riwayat, untuk pemeriksaan beda dan diagnosis banding beda,” kata Endra.

Untuk pemeriksaan fisik, lanjut dia, jika pasien laki-laki dilakukan dengan melihat alat kelamin apakah keluar cairan atau tidak. Untuk kasus klamidia, cairan yang keluar biasanya encer dan jumlahnya tidak sebanyak kencing nanah kecuali jika terjadi infeksi gabungan.

Lalu pemeriksaan pada wanita yang masih gadis maka tidak dilakukan pemeriksaan dalam. Kalau sudah tidak gadis maka dilakukan pemeriksaan dalam. Sebagai pemeriksaan tambahan atau penunjang yaitu bisa dengan pemeriksaan cairan yang keluar dari alat kelamin dan dengan serologi.

Jika hasil pemeriksaan mengarah ke klamidia, maka dokter akan melakukan pengobatan. Bagi pasangan suami istri harus diobati semua supaya tidak terjadi ping pong fenomena yaitu yang satu diobati dan yang satu tidak, maka bisa menulari lagi pasangannya. Untuk itu, keduanya harus diobati.

“Pengobatan biasanya dilakukan satu sampai tujuh hari. Setelah pengobatan dianjurkan untuk kontrol supaya mengetahui bagaimana perkembangan penyakitnya. Selama melakukan pengobatan, pasien dilarang melakukan hubungan suami istri. Baru setelah dinyatakan negatif, bisa melakukan hubungan suami istri,“ urainya.

Dwi Hastuti