JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini OPINI: Batu Akik & Kisah Harya Penangsang

OPINI: Batu Akik & Kisah Harya Penangsang

1250
BAGIKAN

Ilustrasi: Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo
Ilustrasi: Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

 

Suharno

Dosen Akuntansi dan Magister Manajemen Unisri Surakarta

 

Orang Jawa terkenal arif dan lantif  dalam melihat suatu peristiwa. Orang Jawa berpandangan, sesuatu yang terjadi tidak berdiri sendiri. Sesuatu yang terjadi pasti terkait dengan kondisi kekinian dan peristiwa masa lalu. Inilah ciri khas orang Jawa selalu  bisa menyatu dan melebur dengan alam, baik mikrokosmos maupun  makrokosmos.

Cara berpikir yang seperti itu terkadang disalahmengertikan oleh orang-orang modern saat ini. Misalnya saat ada suara burung gagak  disekitar rumah. Simbah biasanya berkomentar “Siapa ya yang akan meninggal?“  Cara pandang dan pola pikir yang demikian oleh orang-orang modern, dicap tahayul, klenik dan sebagainya.

Demikian juga pada saat terjadi demam jemani, gelombang cinta dan senthe, delapan  tahun lalu. Booming anturium ini diartikan pada merebaknya  kekejian dan kekejaman di tengah masyarakat. Jemani ditafsirkan “ kejam dan berani.” Gelombang cinta ditafsirkan “kasih sayang manusia mengalami pasang surut.“ Sedangkan senthe, ditafsirkan “ banyak orang yang sinthing,“ tergila-gila mengejar kekayaan, melupakan segalanya.

Tragedi kerusuhan dan bakar-bakaran di Solo beberapa waktu yang lalu, dikaitkan lagu fenomenal Anoman Obong, ciptaan almarhum mbah Rantu Edy Gudel. Lagu ini sempat ditabukan dan tidak boleh dinyanyikan. Takut terjadi sesuatu. Namun orang sering sinis mengatakan Ah itukan hanya ilmu othak, athik gathuk, klenik dan sebagainya. Benar dan tidaknya wallahu alam bishawab. Namun kearifan lokal ini, seyogyanya jangan  sampai kita remehkan dan kita  pandang  sebelah mata.

Saat ini masyarakat tergila-gila batu akik. Pemakai  cicin batu akik dulu identik profesi dukun dan kalangan tertentu. Mereka menggunakan biasanya  untuk  menambah karisma dan kewibawaan. Namun sekarang sebagian besar orang di Indonesia gandrung dan tergila-gila batu akik.

Pertanda Zaman

Munculnya demam akik ini apakah juga mensiratkan kejadian dan cerminan sebuah zaman ?  Coba kita amati dan kita terawang. Bukankah kondisi perpolitikan di Indonesia saat ini juga sedang gaduh. Perseteruan dan benturan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Polri  dan presiden  tidak kunjung berakhir. Para pejabat negara yang seharusnya menjadi pantutan, justru menjadi tontonan rakyat. Mereka mempertahankan ego masing-masing, tanpa ada rasa malu, semuanya merasa paling benar.  Berkepala dan berhati “batu.”Orang Jawa menyebutnya “ mbeguguk  angutha waton.

Bila melihat realita semacam ini, maka hipotesis orang Jawa, ada pula benarnya. Demam batu akik, menggambarkan dan mencerminkan saat ini banyak orang berkepala dan berhati batu. Kembali ke zaman batu. Zaman primitif.  Lalu bila dikaitkan  dengan  dimensi lain,demam akik ini fenomena sosialkah  atau fenomena ekonomi ?

Dimensi ekonomi dan sosial tidak bisa dipisahkan  pada kasus demam akikmania saat ini. Saya percaya dan yakin bahwa  latah memiliki batu akik, sebagian besar  bermotif ekonomi. Ingin mendapat keuntungan “gede,” dalam waktu singkat. Dalam kalkulasi saya, yang benar-benar  pehobi dan kolektor  batu akik sejati, tidak lebih dari 10 persen. Sisanya bermotif ekonomi murni.

Silakan saja dicermati, harga akik yang semula hanya puluhan ribu, sekarang melambung tak terkendali, di luar nalar sehat. Mencapai puluhan sampai ratusan juta. Biasanya produk  yang harganya meroket dalam waktu sekejap  adalah “Produk instan.“Dalam ilmu pemasaran  ada istilah Product Life Cycle (PLC), daur hidup sebuah produk. Produk yang instan, tidak bertahan lama. Paling banter hanya mampu bertahan dua hingga tiga tahun, setelah itu hilang bak ditelan bumi.

Warga Kota Solo tipe dan perilaku masyarakatnya, tampaknya  condong dan senang dengan produk instan yang  berbau spekulasi. Masih segar dalam ingatan kita, kasus gingseng CV Medical, gelombang cinta, jemani, burung love bird dan sekarang batu akik, sedang menjadi trending topik  dimana-mana.

Mengapa masyarakat gampang terpengaruh produk instan?  Kemunculan produk instan, yang diikuti hal-hal yang aneh dan heboh, dalam perspektif sosial dan psikologi adalah  cerminan bahwa masyarakat  saat ini sedang sakit. Bukan sakit fisik, namun sakit psikis. Mereka sedang menghadapi tekanan ekonomi yang berat. Akibat kenaikkan harga-harga, terkenak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), sulit mencari pekerjaan dans ebagainya.

Sebagai jalan ke luar, mereka menghibur diri,  bermimpi bisa ke luar dari penderitaan dan impitan ekonomi dengan jalan pintas. Iming-iming keuntungan yang  besar, membuat mereka tergiur dengan produk instan. Salah satunya adalah berlomba memborong akik untuk dijual kembali, dengan harapan mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda dalam waktu sekejap.

Tanggap Ing Sasmita

Bagaimana seharusnya kita mensikapi hal itu? Menurut saya pribadi mari kita kembali kepada filosofi kearifan lokal.  Orang Jawa memiliki ugem-ugem “ Ojo Gumunan lan Ojo Kagetan. Terjemahan bebasnya adalah jangan mudah terkesima dan jangan muda tekejut atau kagum terhadap sesuatu yang baru.  Kita harus selalu tenang dalam menghadapi sesuatu, penuh dengan perhitungan, tidak gegabah dalam mengambil keputusan.

Kunci kesuksesan harus diraih dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja waras. Kerja keras bermodalkan otot, kerja cerdas bermodalkan otak dan kerja waras  secara rohani bermodalkan hati. Di samping itu yang tidak kalah penting kita harus peka dalam menangkap perubahan lingkungan. Dalam istilah jawa “ tanggap ing sasmita “, termasuk menyikapi terhadap booming batu akik.

Sejarah telah membuktikan, apabila seseorang tidak “tanggap sasmita,” akan berakhir dengan kehancuran. Sebuah kisah fenomenal yang sering saya sampaikan dalam forum pelatihan dan seminar, kisah Harya Penangsang. Karena hanya menggandalkan emosional, maka gagal dalam meraih tahta sebagai sultan di Kasultanan Demak Bintoro.

Padahal kita tahu, yang berhak menduduki tahta sepeninggalkan Sultan Trenggono, Demak seharusnya jatuh ke tangan Surowiyoto, bapaknya Harya Penangsang. Namun apa yang terjadi tahta justru jatuh ke tangan mas Karebet, alias Joko Tingkir anak Ki Kebo Kenongo, petani dari Desa Pengging.

Pada saat Harya Penangsang ingin menjadi sultan, berkonsultasi dengan Sunan Kudus. Sunan Kudus memberikan wejangan keinginan jadi sultan akan tercapai, namun ada syaratnya. Harya Penangsang diminta untuk “tanggap ing sasmita.” Saat Harya Penangsang bertemu berhadap-hadapan dengan Joko Tingkir  atau Sultan Hadiwijaya, terjadi pertengkaran, Sunan Kudus pun melerai, sambil memegang tangan Sultan Hadi Wijaya, seraya mengatakan “Ngger, Penangsang, kerismu sarungno ngger… sarungno.“

Apa yang terjadi, Penangsang yang sudah punya kesempatan menusukkan keris Setan Kober ke dada Joko Tingkir, gagal, karena kerisnya dimasukkan (disarungkan) dalam warangka (tempat keris). Padalah maksud Sunan Kudus, keris itu disarungkan ke dada Sultan Hadiwijaya. Penangsang gagal menangkap pesan tersirat dari Sunan Kudus. Dia hanya mampu menangkap pesan tersurat saja.

Persis dengan booming batu akik. Kita harus “tanggap ing sasmita.” Pesan saya jangan terlena, saat  masuk bursa batu  akik  harus rasional. Bisnis yang tidak rasional pasti akan tumbang di tengah jalan. Bila kita tidak “tanggap ing sasmita,” nasibnya bisa seperti Harya Penangsang, mati dan berdarah-darah di medan perang. Bukankan saat kita masuk dunia usaha, ibaratnya juga masuk dalam medan pertempuran.  Bukankah begitu? Bagaimana pendapat Anda?