JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini OPINI: Calon Bupati Boyolali Nggak Jelas?

OPINI: Calon Bupati Boyolali Nggak Jelas?

508
BAGIKAN

 

logo BoyolaliBramastia

Mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Tinggal di Boyolali

Genderang perang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Boyolali 2015 kini sudah ditabuh. Para kandidat yang ingin mencalonkan sebagai Bupati Boyolali 2015 sudah tampak dipermukaan publik. Tatkala pasangan bupati dan wakil bupati sebentar lagi menghabiskan masa jabatannya pada 3 Agustus 2015, kandidat yang ingin menggantikannya ternyata masih tergolong “malu-malu kucing”.

Rencana Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang akan menggelar Pilkada serentak 16 Desember 2015 disambut antusias rakyat yang kini sudah jenuh dengan sepak terjang penguasa Boyolali. Pilkada Boyolali yang tinggal hitungan bulan ini menjadi pintu utama menuju kebebasan rakyat atas penguasa yang membelenggu demokrasi. Tirani demokrasi menjadi momok yang mewajibkan bagi rakyat untuk bergerak dan berjuang untuk berusaha membebaskan diri dari jerat arogansi rezim Boyolali saat ini.

Yang lebih menyedihkan, hampir semua ketua partai politik di Boyolali tiarap dan tidak ada yang berani mencalonkan diri sebagai Calon Bupati (Cabup) Boyolali 2015. Elite politik justru hanya menjadi penonton dinamika politik sembari lihat-lihat peluang siapa nanti yang berpeluang paling menguntungkan secara pribadi. Wajar bila rakyat menjadi semakin ragu terhadap perubahan Boyolali yang lebih baik karena minim kandidat dan elite politik semua pada tiarap.

Kelakukan para Cabup yang ingin maju akhir-akhir ini rasanya justru menambah keprihatinan rakyat Boyolali. Sepak terjang calon yang baru saja mendaftarkan diri ke partai politik, hampir tak mencerminkan sosok panutan bagi rakyat karena tingkah lakunya yang jauh dari etika politik. Perkataan seorang calon pemimpin rakyat tidak jauh dari konsistensi, karena sering berucap “esuk dele, sore tempe” alias “mencla-mencle”.

Keprihatinan rakyat semakin menumpuk, ibaratnya Cabup Boyolali ini memang “nggak jelas” semua. Mengapa penulis katakan Cabup “nggak jelas” ? Bayangkan saja, seorang Cabup sudah berkali-kali mengeluarkan statement tidak akan maju lagi sebagai Bupati Boyolali, tetapi di titik akhir pendaftaran memasukkan berkas lamaran ke partai politik untuk menjadi calon bupati. Bukankah tidak salah kalau nantinya rakyat menyebut dirinya sebagai Cabup “nggak jelas”.

Rasanya sedih tatkala rakyat Boyolali dibodohi segelintir elite yang hanya untuk kepentingan pribadinya. Dia meneriakkan tidak akan maju lagi ke berbagai media nasional, tetapi ujung-ujungnya maju lagi. Agar tidak disorot tajam dan dikritik banyak pihak, Cabup “nggak jelas” ini memakai bahasa halus karena dicalonkan. Padahal, rakyat sudah tidak mudah lagi dibohongi dan sudah tahu kalau ujungnya hanya ingin mendapat simpati dan syukur-syukur mendapatkan rekomendasi.

Rakyat sedang tertawa geli atas alasan “nggak jelas” ini, karena jelas bagaimana mungkin tidak tahu siapa yang menulis dan mendaftarkan diri sebagai kandidat Cabup Boyolali lewat partainya. Pada formulir pendaftarannya saja memuat kata “mencalonkan untuk kepala daerah” dan harus ditanda tangani di atas materai. Lantas, mengapa masih saja berkoar-koar kalau tidak mau mencalonkan diri? Apa salah kalau kemudian rakyat menyebut sebagai Cabup “nggak jelas” dengan fakta yang terjadi ini?

Sedih rasanya kalau mencermati fenomena Cabup Boyolali 2015 ini. Calon yang daftar saja harus mengisi formulir Daftar Riwayat Hidup sebagai pemenuhan atas syarat bakal calon kepala daerah dan tentu harus ada tanda tangan di atas materai sang calon. Kalau ada blangko yang sedemikian, masihkah mau mengatakan kalau tidak mencalonkan diri sebagai Cabup Boyolali? Kalau pun menyangkal sih boleh saja, tetapi jangan salah kalau kemudian rakyatnya menganggap sebagai Cabup “nggak jelas” sambil tersenyum kecut.

Rasanya, sisi administratif tidak mudah untuk dimungkiri atau diputarbalikkan. Bila formulirnya saja ada surat pernyataan kesediaan menjadi calon kepada daerah dari partainya, mengapa masih memungkiri tidak akan mencalonkan diri? Apalagi di bawah ada tanda tangan bermaterai yang jelas-jelas bersedia untuk dicalonkan menjadi kepala daerah oleh partainya. Kalau ini masih memungkiri, rakyat akan bergumam dan berkata bahwa ini adalah Cabup yang benar-benar “nggak jelas”.

Meragukan 

Fenomena Cabup Boyolali “nggak jelas” ini makin jelas, tatkala ada Cabup yang sangat optimis mendapatkan banyak dukungan rakyat, tetapi malahan belum jelas kendaraan politiknya. Gerakannya rajin ke bawah dan rajin bertegur sapa dengan rakyat, tetapi sadar atau tidak sadar sebetulnya masih belum jelas partainya. Siapa partai pengusungnya juga belum jelas karena banyak elite politik yang bertanya-tanya nantinya mau pakai partai apa? Jawabannya adalah lha kok ternyata “nggak jelas” juga partai pendukungnya!

Begitu pula saat salah satu partai politik membuka pendaftaran, ada Cabup yang sudah mengambil formulir pendaftaran. Tetapi saat ditanya apakah mengambil fomulir pendaftaran, justru mengatakan tidak mengambil formulir pendaftaran. Namun, tiba-tiba Cabup ini menegaskan diri untuk maju bupati dari partai tersebut secara vulgar. Tapi pada saat pengembalian formulir justru tidak mengembalikan formulir yang harusnya diisikan. Apakah salah bila rakyat menyebutnya sebagai Cabup “nggak jelas” juga?

Padahal, sampai saat ini dukungan politik yang riil dari partai politik saja sampai belum ada yang jelas. Karena partai politik saat ini sedang wait and see melihat perkembangan politik partai penguasa terkait rekomendasi jatuhnya kepada siapa. Rakyat semakin khawatir gara-gara ketidakjelasan sikap politiknya, justru nanti akan “ketinggalan kereta” dukungan dari partai politik yang ada di Boyolali.

Rakyat sudah pintar dan semakin tahu sepak terjang Cabup berkategori “nggak jelas” ini. Tatkala pecah kongsi juga tidak menampakkan sikap tegasnya terhadap keberpihakan pada rakyat.

Ketegasan melawan kebijakan yang tidak pro rakyat hampir tidak pernah terucapkan. Rakyat menjadi ragu karena sikap politik yang tidak tegas selama ini. Kini, rakyat Boyolali hanya diberikan sebuah alternatif kepemimpinan yang memang benar-benar “nggak jelas” sama sekali.

Yang lebih menyedihkan, ternyata masih ada Cabup “nggak jelas” juga yang tidak mau secara langsung tunjuk muka kepada publik.

Realitas politik di Boyolali membuat para penantang baru harus berpikir seribu kali untuk menjadi bupati. Barangkali, para Cabup “nggak jelas” ini sedang mencarikan petuah untuk berlaga dalam pilkada Boyolali 2015. Mereka merenungkan kalau ternyata tidak hanya sumber daya politik yang menjadi pertimbangan, tetapi sumber daya finansial perlu diperhitungkan. Para Cabup “nggak jelas” yang lain ini sedang berkalkulasi peluang menang atau kalah seandainya maju sebagai Bupati Boyolali 2015.

Apabila rakyat meragukan Cabup Boyolali “nggak jelas”, maka harus dimaklumi dan menjadi kewajaran mengingat kandidat yang ada tidak punya rasa percaya diri. Kalkulasi finansial rasanya lebih menjadi pertimbangan kuat bagi Cabup atau partai politik, bukan pertimbangan atas visi misi memperbaiki kondisi Boyolali. Kalau pun memang benar situasi “nggak jelas” ini yang terjadi, adalah wajar bila rakyat meragukan cabup Boyolali 2015.

Rasanya, rakyat harus berpikir dan merenung atas fenomena Cabup “nggak jelas” ini. Jangan sampai rakyat memilih sosok Cabup “nggak jelas” dan berakibat masa depan Boyolali menjadi “nggak jelas” juga. Tentu saja rakyat tidak mau memilih Cabup “nggak jelas” agar tidak disebut Rakyat “nggak jelas”. Maukah rakyat Boyolali disebut rakyat “nggak jelas”gara-gara memilih “Bupati Nggak Jelas”?