JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Opini OPINI: Duka yang Menyatukan

OPINI: Duka yang Menyatukan

270
BAGIKAN
Tim SAR gabungan di lokasi longsor di Banjarnegara. Hingga Minggu (13/12/2014) sudah terhimpun lebih dari 640 orang relawan dan rescuer berbagai instansi. | Antarafoto/Idhad Zakaria
Tim SAR gabungan di lokasi longsor di Banjarnegara. Hingga Minggu (13/12/2014) sudah terhimpun lebih dari 640 orang relawan dan rescuer berbagai instansi. | Antarafoto/Idhad Zakaria

Rumongso

Guru SD Djama’atul Ichwan Program Utama Solo

 

Bangsa yang tercabik – cabik gegara pilihan politik ternyata mampu disatukan. Agak tragis sebab yang menyatukan bangsa ini adalah musibah. Kita tiba–tiba merasa sebagai satu bangsa manakala bencana menimpa. Kita merasa sebagai satu keluarga manakala ada duka yang melanda. Apakah kita harus menunggu hingga datangnya musibah untuk merasa sebagai satu bangsa, satu keluarga? Apakah lewat cara duka lara rasa bersatu itu akan muncul? Apakah tidak ada hal lain, di luar berita duka dan munculnya musibah, yang juga mampu melahirkan energi besar bernama rasa persatuan?

Di sebuah keluarga sikap guyub baru muncul jika ada sanak keluarga yang terkena musibah. Kita baru sadar bahwa ternyata si Dadap orang yang selama ini kita cuekin, si Waru yang selama ini bikin hati kita kesal itu kerabat kita saat mereka sedang terkena musibah. Kita tiba–tiba diingatkan, memori kita dibuka lewat musibah. Bahkan, terhadap orang yang tempatnya jauh dari tempat tinggal kita, selalu ada waktu untuk mendatangi saat mendengar berita duka. Duka membuat jarah menghilang dan menjadi tidak ada.

Berkah Terselubung

Saat bencana gempa bumi dan gelombang tsunami menerjang Aceh kita tersentak. Kita bahu-membahu menolong. Padahal sebelumnya hati dan perasaan kita jengkel sebab ada komponen masyarakat Aceh yang mencoba memberontak. Hati kita marah sebab rumah saudara kita yang sudah puluhan tahun tinggal di Aceh karena ikut program transmigrasi dibakar oleh kelompok yang menamakan diri sebagai Gerakan Aceh Merdeka / GAM. Tapi luka batin, dan sakit hati itu hilang manakala ada bencana yang melanda Aceh. Ada barokah terselubung atau blessing in disquisess atas musibah itu sehingga Aceh aman tenteram tanpa gejolak apapun hingga kini.

Sama halnya saat bencana gempa melanda Yogyakarta tepatnya di Kabupaten Bantul dan sebagian Kabupaten Klaten. Rasa anyel karena pernah dikepruk dengan harga selangit saat makan lesehan di Malioboro hilang manakala kita mendengar musibah gempa ini. Atau, musibah tanah longsor di Banjarnegara beberapa saat yang lalu. Kita bahu-membahu untuk menolong mereka dengan cara apapun, lewat jalan manapun. Bencana atau berita duka, apapun bentuk dan jenisnya pastilah bukan sesuatu yang kita harapkan datangnya.

Musibah jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 pada 28 Desember 2014 juga mampu mengusik sikap empati kita. Bahkan, simpati dan rasa empati atas musibah itu melintasi batas negara, kebangsaan, ras, suku bangsa, dan agama. Kita rela tidak bersenang–senang merayakan datangnya Tahun Baru 2015. Kita larut dalam doa tanpa pedulikan apa agama yang dianut oleh korban. Sisi kemanusiaan kita, mampu mengantarkan setiap ucap kata baik bernama doa. Kita meyakini bahwa suara kita semua, suara bangsa ini didengar oleh Sang Empunya Hidup. Maka saat lokasi musibah diketahui,  korban berhasil dievakuasi lalu diidentifikasi, kita lalu bersyukur dan yakin semua itu berkat doa yang kita ucapkan. Ada keyakinan besar bahwa Tuhan sangat dekat dengan kita dan ada dipihak kita, jika kita membandingkan dengan tidak diketemukannya pesawat Malaysia Airlines hingga kini.

Musibah kebakaran Pasar Klewer juga mampu menyatukan elemen masyarakat. Saya terhenyak saat melihat pedagang batik didatangi oleh pemasok barang dagangan bukan hendak menagih uang dagangan, tetapi mengirim lagi dagangan agar si pedagang lekas bangkit dan tidak larut dalam kesedihan. Ia tahu bahwa siapapun tak mengharapkan ada api yang melahap pasar.

Ia, katanya sudah cukup memperoleh keuntungan dari relasi dagang yang selama ini mereka berdua lakukan. Tak elok, katanya lagi, hanya berpikir sebatas keuntungan dan tidak peduli dengan datangnya musibah. Maka kita menunggu apakah bank–bank yang modalnya triliunan rupiah itu juga akan memiliki sikap yang sama dengan para bakul Pasar Klewer dengan cara memberikan kelonggaran mengangsur cicilan kredit para pedagang? Jika tidak maka benar anggapan bahwa uang itu tidak memiliki mata hati. Musibah dan bencana menghilangkan sekat. Tidak ada liyan  atau others . Tidak ada “kita” dan “mereka” dalam musibah, semua menjadi “kami”.

Yang paling baru terjadi adalah perasaan duka bersama saat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diserang oleh politikus yang di belakangnya berdiri para koruptor. Kita bersatu larut dalam duka. Sebab, kita tahu KPK adalah satu–satunya harapan atas mengguritanya wabah korupsi di Indonesia. Rakyat sudah tidak banyak berharap kepada institusi kepolisian, kejaksaan. Sebab, dalam persepsi rakyat kedua institusi itu masih belum mampu diandalkan memberantas korupsi. Maka, simpati dan pembelaan kepada institusi KPK muncul.

Tuhan Diperkosa

Maka, kita marah saat ada kelompok atau orang yang mengaitkan musibah ini dengan urusan politik, soal kalah menang dalam pemilihan presiden, dengan mengatakan semua ini azab dari Tuhan kepada salah satu calon presiden. Seolah, Tuhan diperkosa karena dipaksa untuk mengakui bahwa musibah ini adalah karena kemarahannya, sebab, katakanlah Jokowi yang menang dalam pemilihan presiden. Tuhan seolah dipreteli kekuasaan-Nya. Dan oleh mereka itu, kelompok yang merasa mengaku paling dekat dengan Tuhan, paling berhak mengeluarkan klaim, Tuhan Yang Maha Kuasa itu menjadi sangat kerdil dan kecil sebab seolah urusan Tuhan sebatas pemilihan presiden di Indonesia. Mereka menyembah Tuhan, menyanjung-Nya lalu memaksa-Nya berkehendak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Kemarahan kita semua karena kita juga memiliki Tuhan yang sama dan meyakini bahwa sangat sembrono mengaitkan bencana ini kepada soal kecil bernama pemilihan presiden yang dimenangkan oleh Jokowi, yang dalam pandangan lawan didukung oleh kelompok yang kurang dekat dengan Tuhan. Sebaliknya, merekalah yang merasa diri sebagai kelompok yang paling memiliki Tuhan lewat simbol–simbol agama yang mereka anut misalnya lewat baju putih, kopiah, surban, tanda salib atau simbol dan hal lainya.

Kamanungsan

Sebagian dari kita yang memiliki akar budaya Jawa mengenal kata kamanungsan alias kemanusiaan, memiliki sifat- sifat dasar manusia. Sifat dasar itu tidak dimiliki oleh mahkluk bernama hewan, setan atau malaikat. Kita memiliki hati dan akal pikiran. Dan, lewat keduanya kita menjelma menjadi jalma lumrah yang berbeda dengan setan atau malaikat. Setan dan malaikat itu tidak memiliki hati dan akal seperti kita. Jika setan memiliki hati dan akal pikiran maka tidak ada itu lokalisasi prostitusi, orang mati minum oplosan, maling,  koruptor sehingga tugas polisi menjadi ringan dan kita tidak usah repot membuat KPK. Jika malaikat itu memiliki sifat kamanungsan maka ia akan tunda untuk mencabut nyawa orang yang masih memiliki anak kecil yang harus diasuh dan dibesarkan.

Rasa kamanungsan itulah yang sejatinya menyatukan kita saat musibah menyapa seperti saat ini. Tidak ada hal yang lebih penting dalam setiap musibah, duka, nestapa selain menempatkan sisi–sisi kemanusiaan kita dalam barisan terdepan dan berprasangka baik kepada Gusti Allah, tidak mendikte Gusti Allah, tidak memaksa Gusti Allah. Apalagi, sampai menyalahkan Gusti Allah. Sejatinya, sisi kemanusiaan kitalah yang mampu melihat dengan jernih. Sebab, kita memiliki hati nurani yang tidak mampu kita bohongi meski kita berhasil menipu dan membohongi ribuan orang. Duka yang menimpa memang membuat kita kuat. Tapi jangan menunggu datangnya duka untuk menjadi kuat. Suatu saat kita akan kuat karena diikat oleh suka cita dan kabar gembira. Kembalilah menjadi manusia dengan kamanungsan-nya.